"Kami berikan masker, desinfektan. Cegah dulu (Mers-Cov). Saya khawatir, maskernya justru ditinggal, jadi bukan hanya obat-obat saja. Masker harus dibawa, desinfektan harus dibawa,"
Jakarta (Antara Babel) -  Kementerian Kesehatan merilis sampai Agustus 2015 tercatat 30 kasus Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS CoV (+) di Korea Selatan, dua diantaranya meninggal dunia.

Di seluruh dunia, saat ini, ada 1.161 kasus MERS CoV (di lebih dari 20 negara), sebagian besar di Arab Saudi dan negara Timur Tengah lainnya. Di Asia ada di Korea Selatan, Tiongkok dan Malaysia.

Dari kasus sebanyak itu, terungkap bahwa 436 di antaranya meninggal dunia. Dari kondisi ini dapat dimaknai bahwa MERS CoV masih menjadi ancaman bagi kesehatan jemaah haji dari seluruh dunia.

Tetapi sampai kini belum ada pembatasan bepergian ke Korea Selatan dan juga ke Timur Tengah yang kasusnya lebih banyak.

Menkes Nila F. Moeloek menyatakan akan terus memberi perhatian khusus kepada kelompok masyarakat tertentu yang mempunyai risiko lebih besar untuk terinfeksi penyakit MERS-CoV, yaitu pelaku perjalanan umrah dan haji.

Tercatat jumlah jemaah umroh Indonesia setiap hari rata rata 200 orang atau lebih kurang 6.000 jemaah per bulan. Jumlah ini biasanya meningkat drastis pada bulan puasa, awal Idul Fitri, pada hari-hari besar keagamaan Islam dan juga pada saat libur anak sekolah.

Selain itu, kelompok berisiko lainnya adalah jemaah haji yang jumlahnya tidak kurang dari 168.000. Ini belum termasuk TKI yang bekerja di luar negeri di beberapa negara terjangkit MERS-CoV seperti di jazirah Arab, Korea Selatan, Tiongkok dan Thailand.

Terkait hal itu pula, Menkes pun mengingatkan jemaah calon haji agar tidak meninggalkan masker dan desinfektan untuk mencegah tertular penyakit MERS-CoV selama di Tanah Suci, Mekkah, Madinah dan Armina kala menjalankan ibadah haji.

"Kami berikan masker, desinfektan. Cegah dulu (Mers-Cov). Saya khawatir, maskernya justru ditinggal, jadi bukan hanya obat-obat saja. Masker harus dibawa, desinfektan harus dibawa," ujar Nila dalam seminar "Cegah Resistensi Antibiotik: Demi Selamatkan Manusia" di Jakarta, belum lama ini.

Nila mengimbau jemaah calon haji menerapkan perilaku hidup bersih dengan membiasakan mencuci tangan. "Saya ingin sekali, manasik jangan hanya diajarkan proses melaksanakan ibadah haji tetapi juga kebersihan. Termasuk pemberitahuan soal Mers," imbaunya.

Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus atau dikenal dengan MERS - CoV adalah penyakit sindrom pernapasan yang disebabkan oleh virus Corona yang menyerang saluran pernapasan dari yang ringan sampai dengan berat. Gejala MERS CoV antara lain berupa batuk, demam dan sesak napas.

Untuk itu pulalah masyarakat Indonesia yang akan menunaikan ibadah haji dalam waktu dekat diimbau untuk rajin cuci tangan pakai sabun (CTPS), karena sudah terbukti kegiatan ini menurunkan penularan MERS CoV.

MERS CoV lebih banyak menulari mereka yang mempunyai sakit kronik sebelumnya, seperti paru, jantung, hipertensi, diabetes melitus. Maka sebelum berangkat disarankan untuk memeriksakan diri terlebih dahulu ke dokter di Tanah Air, cek keadaannya dan bawa obatnya. Batasi kontak dengan mereka yang ada gangguan pernapasan, seperti 'Influenza like illness', dan batasi kunjungan ke Klinik atau RS yang menangani MERS CoV di sana.

Terkait pencegahan penularannya, badan kesehatan dunia atau World Health Organization (WHO) juga memberikan saran sebagai berikut:

Pertama, semua negara anggota diimbau meningkatkan surveilans terhadap kasus Insfeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dengan gejala yang tidak biasa.

Kedua, langkah-langkah pencegahan dan pengendalian infeksi sangat penting untuk mencegah kemungkinan penyebaran Mers CoV di fasilitas pelayanan kesehatan. Karena gejala awal Mers-CoV tidak spesifik dan sulit untuk mengidentifikasi gejala tersebut di awal, maka petugas kesehatan harus selalu menerapkan SOP tindakan pencegahan untuk semua pasien, terlepas dari diagnosis mereka.

Ketiga, bagi penderita diabetes, gagal ginjal, penyakit paru-paru kronis, dan orang dengan sistem kekebalan tubuh yang dianggap berisiko tinggi terhadap infeksi Mers-COV, harus menghindari kontak dekat dengan hewan, terutama unta, ketika mengunjungi peternakan, pasar, atau daerah yang berpotensi tinggi menyebarkan virus.

Mencuci tangan secara teratur sebelum dan setelah menyentuh hewan dan menghindari kontak dengan hewan yang sakit, harus dipatuhi. Orang harus menghindari kencing unta dan jangan minum susu mentah unta atau makan daging yang belum dimasak dengan benar.

Keempat, WHO tidak menyarankan skrining khusus pada pintu masuk negara dan tidak merekomendasikan penerapan pembatasan perjalanan atau perdagangan apapun.

    
Kesiagaan Indonesia

Sebagai antisipasi merebaknya MERS-CoV masuk ke Tanah Air, Menkes Nila Moeloek menyempatkan diri menyaksikan kegiatan simulasi kesiapsiagaan dan penatalaksanaan MERS-CoV di Bandara Soekarno Hatta, Juli lalu. Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya meningkatkan kesiapsiagaan dan kemampuan penatalaksanaan terhadap risiko importasi MERS CoV yang saat ini merebak di beberapa negara Asia.

Sangat penting bagi sektor kesehatan untuk memastikan bagaimana melakukan pencegahan serta mendeteksi sedini mungkin jika ada kasus masuk melalui pintu masuk negara, tegas Menkes.

Selain itu, kegiatan ini juga untuk melihat bagaimana jajaran rumah sakit (RS) melakukan penanganan kasus dan pengendalian infeksi serta bagaimana Dinas Kesehatan melakukan penelusuran kontak dekat. Kegiatan ini juga penting dalam menyiapkan masyarakat menghadapi ancaman ini.

Menkes minta dukungan semua pihak untuk terus-menerus menyosialisasikan dan menyampaikan kepada seluruh lapisan masyarakat informasi tentang MERS CoV sehingga proses edukasi ini secara langsung menyiapkan masyarakat untuk mamahami risiko penyakit MERS-CoV.

Ia menekankan, kapasitas nasional dalam merepons MERS CoV tidak hanya di pintu masuk negara melalui bandar udara, pelabuhan dan pos lintas batas darat negara, tetapi juga kemampuan rumah sakit untuk menangani MERS CoV.

Di samping itu kemampuan laboratorium untuk melakukan pemeriksaan konfirmasi yang cepat juga diperhatikan, agar pasien yang diduga (suspek), dapat dipastikan diagnosa dan dilakukan tindakan yang tepat.

Bandar Udara Soekarno Hatta adalah etalase Indonesia, yang menunjukkan kemampuan bangsa dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat khususnya pengguna bandar udara.

Pada kesempatan tersebut, Menkes mengapresiasi seluruh jajaran satuan unit kerja di bandara Soekarno Hatta yang telah membangun kerja sama guna melaksanakan kewaspadaan terhadap penyakit ini.

Dalam satu dasawarsa terakhir ini, warga dunia menghadapi lebih banyak kejadian kedaruratan kesehatan masyarakat, seperti Severe Acute Respiratory Syndroms (SARS) tahun 2002, Flu Burung tahun 2005, Pandemic Influenza H1N1 tahun 2009, kejadian penyebaran Polio 2014, kejadian Ebola tahun 2014 dan kejadian merebaknya MERS CoV di beberapa negara Asia tahun 2015.

Tantangan dan risiko masuknya penyakit menular berpotensi wabah melalui pintu masuk negara cenderung meningkat dari waktu ke waktu. Di sini diperlukan sistem kesehatan nasional untuk mampu mencegah dan menangani kejadian serupa di masa yang akan datang.

Selain itu, kapasitas dalam mencegah, mendeteksi dan merespons kejadian penyakit dilakukan sepenuhnya untuk melindungi kepentingan nasional Bangsa Indonesia.

Sebagai bagian dari komunitas internasional, maka Indonesia mempunyai tanggung jawab yang sama besarnya untuk menjaga kawasan regional dan global dari penularan penyakit yang membahayakan kesehatan masyarakat dunia tanpa terkecuali.

Pewarta: Edy Supriatna Sjafei
Editor : Rustam Effendi

COPYRIGHT © ANTARA 2026