Ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta mengatakan nilai tukar rupiah
kembali melemah mengikuti pelemahan mata uang lain terhadap dolar AS di
pasar global bersama ketidakpastian rencana kenakan suku bunga The
Federal Reserve Amerika Serikat.
"Ketidakpastian kenaikan suku bunga the Fed menjadi salah satu pendorong nilai tukar rupiah kembali mengalami depresiasi terhadap dolar AS," katanya.
Selain itu, dia mengatakan, prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih melambat juga menambah sentimen negatif terhadap rupiah. Melambatnya perekonomian Indonesia mendorong aliran dana asing keluar dari pasar keuangan di dalam negeri.
"Pemerintah yang berencana menerbitkan beberapa peraturan sebagai stimulus untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, secara umum efektivitasnya masih diragukan pasar selama serapan anggaran belum membaik," katanya.
Namun, menurut dia, Bank Indonesia masih menjaga nilai tukar rupiah.
Pengamat pasar uang Bank Himpunan Saudara Rully Nova menambahkan peluang rupiah kembali menguat masih terbuka namun sifatnya terbatas karena faktor teknikal karena secara fundamental ekonomi Indonesia masih belum mendukung penguatan nilai tukar rupiah.
"Ekonomi yang masih melambat masih menjadi salah satu faktor penahan bagi nilai tukar rupiah untuk menguat secara fundamental," katanya.
Editor : Mulki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.