"Berdasarkan analisis tren data suhu maksimum dan minimum terlihat adanya kenaikan suhu yang signifikan yakni maksimum 2,8 derajat Celcius per abad dan kenaikan suhu minimum 2,6 derajat," kata Kepala Pengolahan Data BMKG Pangkalpinang Supari di Pangkalpinang, Kamis.
Supari menjelaskan analisis tersebut menunjukkan terjadinya pemanasan suhu permukaan di Babel.
"Data tersebut menunjukkan adanya pemanasan suhu, perubahan iklim memang sedang terjadi di dunia dan di Babel mengakibatkan adanya kenaikan suhu tersebut," kata dia.
Analisa yang dilakukan BMKG tersebut merupakan penelitian dengan menggunakan data suhu dan hujan hasil pengukuran Stasiun Meteorologi Pangkalpinang.
"Hujan di Pangkalpinang ternyata telah diamati sejak tahun 1888, dan kami menggunakan data sepanjang 124 tahun dari tahun itu," katanya.
Selain adanya peningkatan suhu permukaan, perubahan iklim di Babel juga ditandai dengan adanya pergeseran puncak musim kemarau.
"Hasil analisis curah hujan bulanan rata-rata setiap 10 tahun menunjukkan secara umum adanya pergeseran puncak musim kemarau dari Agustus menjadi September," katanya.
Lebih lanjut Supari mengingatkan agar masyarakat Bangka Belitung dapat lebih peduli dengan perubahan iklim dengan menerapkan pola hidup ramah lingkungan.
"Mari jaga Babel bersama-sama, tanda-tandanya sudah jelas, perubahan suhu sudah terasa, maka mari hidup lebih ramah lingkungan," katanya.
Pewarta: Pewarta: Ida NurcahyaniEditor : Ida
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.