"Pemicu turunnya NTP adalah perubahan indeks harga hasil produksi pertanian yang lebih kecil jika dibandingkan dengan perubahan indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga maupun untuk keperluan produksi pertanian," kata Kepala Badan Pusat Statistik Babel, Darwis Sitorus di Pangkalpinang, Senin.
Dari lima NTP subsektor, jelasnya, tiga mengalami penurunan sedangkan dua lainnya mengalami kenaikan. NTP subsektor hortikulutra turun 0,15 persen dari 100,43 menjadi 100,28, NTP subsektor tanaman perkebunan rakyat turun 1,84 persen dari 107,19 menjadi 105,22 dan NTP subsektor peternakan turun 0,68 persen atau dari 90,70 menjadi 90,08.
Sedangkan NTP subsektor tanaman pangan naik 0,47 persen dari 96,79 menjadi 97,25 dan NTP subsektor perikanan juga naik 1,83 persen dari 101,65 menjadi 103,51.
Ia mengatakan, indeks harga yang dibayar petani (It) pada Januari 2016 mengalami penurunan sebesar 0,69 persen dari 121,33 menjadi 102,49. Penurunan disebabkan turunnya It pada dua subsektor.
Subsektor tanaman perkebunan rakyat turun sebesar 1,52 persen dan subsektor peternakan 0,68 persen, sedangkan subsektor tanaman pangan naik sebesar 0,82 persen, subsektor hortikultura 0,07 persen dan subsektor perikanan naik sebesar 0,80 persen.
Sementara itu indeks harga yang dibayar petani (Ib) pada Januari 2016 mengalami kenaikan sebesar 0,19 persen dari 117,12 menjadi 118,12. Kenaikan disebabkan naiknya Ib di empat subsektor.
Subsektor tanaman pangan naik sebesar 0,35 persen, subsektor hortikulutra 0,21 persen, subsektor tanaman perkebunan rakyat 0,33 persen dan subsektor perternakan naik 0,26 persen, sedangkan subsektor perikanan turun 1,01 persen.
Pewarta: MulkiEditor : Mulki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.