"Home industri atau industri rumah tangga memproduksi makanan dan minuman seperti gula-gula, getes, kue dan kopi dengan rasa pedas lada tentu menambah variasi rasa di pasaran dan bisa menjadi ikon makanan khas Babel,"Pangkalpinang (Antara Babel) - Badan Pengelola Pengembangan dan Pemasaran Lada (BP3L) Provinsi Bangka Belitung (Babel) mengembangkan aneka produk "home industri" atau industri rumah tangga berbahan bubuk lada untuk meningkatkan nilai jual lada di pasaran.
"Home industri atau industri rumah tangga memproduksi makanan dan minuman seperti gula-gula, getes, kue dan kopi dengan rasa pedas lada tentu menambah variasi rasa di pasaran dan bisa menjadi ikon makanan khas Babel," kata Kepala Bidang Pemasaran BP3L M. Zaika di Pangkalpinang, Minggu.
Ia mengatakan, saat ini baru ada beberapa pengusaha kecil yang mengembangkan produk makanan dengan rasa lada, sehingga prospek ke depannya masih menjanjikan seiring dengan perkembangan sektor pariwisata.
"Untuk menunjang usaha tersebut kita menggandeng beberapa perusahaan swasta dengan melakukan kerja sama dan uji coba mengembangkan beberapa jenis makanan dengan rasa lada," ujarnya.
Ia menambahkan, untuk mengembangkan program tersebut BP3L menggelar beberapa kali "workshop" dan pameran ke beberapa daerah yang bertujuan untuk mempelajari cara yang sesuai untuk mengolah bubuk lada sekaligus mempromosikan hasil produksi kepada masyarakat luas.
"Setelah melihat hasil pengembangan beberapa jenis usaha, diharapkan animo masyarakat membuka jenis usaha serupa semakin meningkat sehingga pertumbuhan ekonomi semakin baik," katanya.
Untuk mendukung pemasaran, katanya, rencananya BP3L akan membuat produk kemasan seperti yang dilakukan perusahaan swasta nasional agar produk olahan menjadi lebih menarik untuk dipasarkan, namun hingga kini belum terlaksana karena terkendala dana.
Ia mengharapkan beberapa perusahaan swasta yang sudah menyatakan kesanggupan kerja sama dengan BP3L dalam pengadaan alat produksi dan kemasan untuk menindaklanjuti program tersebut.
"Dengan ketersediaan alat produksi standar diharapkan program pengembangan produk olahan dapat berjalan dengan baik, bermanfaat dan memotifasi masyarakat untuk meningkatkan produksinya," katanya.
Sementara itu penurunan produksi lada di Babel sejak 2003, menurut Zaika, merupakan kesalahan kebijakan yang diambil pemerintah pada saat itu terkait bidang pertambangan timah yang mengakibatkan luas lahan lada berkurang karena beralih fungsi menjadi lokasi tambang.
"Dengan penurunan produksi lada sebaiknya petani tetap menjaga mutu lada Bangka di pasar internasional, dengan cara hanya menjual lada kualitas bagus sementara untuk kualitas rendah dikembangkan untuk campuran membuat produk makanan olahan," katanya.
Ia mengharapkan masyarakat tidak sekedar menjual lada dalam bentuk biji tapi ada usaha alternatif untuk memanfaatkan bubuk lada sebagai alternatif perasa pada makanan dan minuman sehingga penurunan produksi lada tidak berpengaruh terhadap ekonomi masyarakat.
Pewarta: Pewarta: AprionisUploader : Rustam Effendi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.