Sejumlah pegiat seni rupa di Muntok, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, yang tergabung dalam Kelompok rindudendam berusaha menangkap berbagai peristiwa sosial dan budaya di Tanah Bangka untuk dijadikan objek goresan di kanvas.

Pulau Bangka yang kaya akan kandungan bijih timah memiliki segudang peninggalan bangunan sejarah dan budaya cukup menarik untuk dijadikan objek lukisan para pegiat seni rupa muda tersebut.

Bangunan sejarah seperti Masjid Jamik Muntok berdampingan dengan Kelenteng Kong Fuk Miaw ditangkap dan diaktualisasikan dalam bentuk lukisan berjudul "Harmoni" oleh perupa Anung Nungser dengan goresan ekspresif memadukan warna hijau dan merah.

Anung Nungser, lulusan Desain Interior ISI Yogyakarta, cukup menguasai kemampuan menggambar sketsa bangunan memadukannya dengan garis ekspresif kuas berbagai ukuran dalam karya tersebut.

Melalui tangannya, lukisan dua bangunan ikon toleransi umat beragama di Babel tersebut tampil cukup menarik dengan sapuan kuning dan putih ringan.

Karakter sketsa kuat Anung Nungser dalam tiga karya lain juga tampak ingin menonjolkan karakter berbagai bangunan peninggalan Belanda yang ada di Kota Muntok, seperti suasana "Vlucht Haven" dengan menonjolkan objek beberapa kapal yang sedang berlabuh.

Selain memotret suasana pelabuhan lama pada karya berjudul "Tak Lelah Bersandar" didominasi warna hitam, coklat dan biru tua, dalam lukisan tersebut Anung juga memberikan komposisi beberapa ruang kosong kanvas tanpa goresan warna.

"Ruang kosong tersebut sengaja ditinggalkan, tidak digores cat untuk memberikan ruang bernafas, bernafas di antara sesaknya kapal-kapal yang bersandar di pelabuhan tua tersebut," katanya.

Selain menampilkan dua lukisan tersebut, dia juga menyuguhkan lukisan ekspresif berobjek menara suar Tanjungkalian berjudul "Sang Penanda", bangunan lorong pasar bejudul "Terasa Sepi" dan Tugu Pesanggrahan Muntok, juga dengan warna kusam, seperti nasib sejumlah bangunan bersejarah di daerah itu.

Berbeda dengan Rifza Arif Rianov yang menampilkan lima karya, masing-masing berjudul "Campak", "Tari Sambut", "Kampung Melayu", "Nganggong", dan "Simponi Dambus", pada karya perupa jebolan STSI Bandung tersebut berbicara mengenai budaya masyarakat Bangka yang ditampilkan dengan figur-figur manusia proporsional.

Kemampuan Rifza dalam menggambar realis dipadukan dengan teknik pointilis bertekstur menggunakan kuas memberikan kesan indah penuh warna dalam setiap karyanya.

Untuk menambah kesan budaya Melayu Bangka, dalam karya berjudul "Tari Sambut", dia juga menampilkan beberapa motif kain cual sebagai latar belakang objek utama empat figur perempuan penari sambut.

Kematangan teknik melukis yang dimiliki guru sekolah dasar tersebut cukup mumpuni sehingga lima karya yang ditampilkan menarik untuk dicermati detail per detail.

Peserta termuda, Davit Aok (26), tidak mau kalah dengan teman-temannya, meskipun baru beberapa kali menggores dengan media kanvas, namun dua karya lukisan yang ditampilkan dalam pameran tersebut patut mendapatkan apresiasi.

Lukisan Davit Aok berjudul "Symbol and Icon of Chinese Culture" dengan objek pertarungan dua naga dan singa sebagai simbol etnis Tionghoa tampil cukup menarik, tegas penuh warna.

Perpaduan goresan kasar dan halus yang diberi sentuhan goresan luka paku untuk mempertegas detail garis yang ditampilkan memberikan warna lain dalam pameran kelompok tersebut.

Meskipun belajar melukis secara otodidak, pekerja serabutan yang sering menggarap mural tersebut memiliki dedikasi cukup tinggi untuk terus belajar dan belajar bersama para seniornya di kelompok Rindudendam.

"Keseharian tinggal bersama warga etnis Tionghoa cukup kuat mempengaruhi karya saya dalam pameran ini," kata dia.

Seno Merah yang selama ini dikenal dengan aktivitas panggung pertunjukan dan karya tulis tidak mau kalah unjuk kemampuan melukis di atas kanvas dalam pameran yang digelar selama delapan hari tersebut.

Lima karya lukis berukuran 100 x 145 centimeter dipajang dengan judul "Pohon Cual", "Ketidaknyamananku", "Warna Warni Mentok", "Ke Seberang" dan "Tak Lekang Melayu di Tanah Bangka".

Objek-objek yang ditampilkan dalam setiap karyanya terasa sangat kental Melayu, seperti motif kain cual, motif dekorasi bangunan sejarah dan motif tudung saji yang dipadukan dengan teknik goresan kasar palet.

Pada karya berjudul "Ketidaknyamananku", Seno Merah berasa kuat ingin memadukan teknik lukis dengan objek tulisan puisi sebagai bentuk kesenangannya dalam berkarya puisi, pantun, cerita rakyat, sejarah dan karya sastra.

Pada karya tersebut dia menampilkan sebuah puisi ungkapan ketidaknyamanannya berlatar objek kotak-kotak tidak beraturan, besar kecil dengan warna merah genteng dipadukan hitam dan kuning yang menambah kesan tidak nyaman bagi para penikmat.

Kematangan dalam konsep karya juga terasa kental pada karya-karya Seno Merah yang lain.

Sedangkan Donatus Depe mengangkat tema sosial masyarakat setempat dengan karya berteknik cukil kayu dan print di atas kanvas.

Pada karya berjudul "Kado untuk Bapak", ia menuangkan ekspresi seorang bocah membawa papan bertuliskan "butuh ikan segar dan murah" menggambarkan seorang anak sedang berunjuk rasa. Figur bocah tegar kokoh berdiri seorang diri membawa papan bernada protes dengan latar belakang laut dan sungai dengan aktivitas penambangan bijih timah menggunakan kapal isap produksi dan ponton tambang inkonvensional.

Dalam karya tersebut, perupa ingin menyampaikan pesan sopan mengenai aksi unjuk rasa bocah tersebut untuk menggugah para pemangku kepentingan bersama-sama melindungi kelestarian lingkungan laut dan sungai dari penambangan timah yang merusak kelestarian lingkungan dan menjadikan daerah tangkap nelayan semakin berkurang, sehingga berdampak pada harga ikan yang melambung tinggi.

Pada karya tersebut, perupa menampilkan teknik cukil pada kayu lapis dipertegas dengan warna merah dan hitam.

Selain menampilkan karya "Kado untuk Bapak" berukuran 100 x 122 centimeter, Donatus Depe juga menampilkan karya lain dengan teknik dan tema serupa, masing-masing berjudul "Kalah Banyak", "Berburu Biawak", "Menikmati Kejujuran", dan "Si Congkak di Negeri Babi".

Selain lima perupa tersebut, pada pameran kelompok Rindudendam juga menampilkan karya-karya peserta lain, yaitu Amar Sopi dengan karya berjudul "Stadia Kota", Nopibluss dengan "Warung Komik", Bagus Fajri dengan karya "Kucing", Eka Prabawa berjudul "Burungku Bebas", Putu Asre " dengan Lingga Yoni", Surya Mardiansyah judul karya "Tudung Saji", "Crazy Balok", "Berusaha" dan "Mentilin", Jacklyn dengan judul "Garga Batak", dan EM Erfan dengan karya "I Only See Things Balck and White".

Terlepas dari tafsir karya seni rupa di atas, pameran yang mengusung tema "Tumbuh" ini, Kelompok Rindudendam berusaha menampilkan karya di ruang pameran yang cukup representatif di Museum Timah Indonesia Muntok.

Eksistensi Kelompok Rindudendam yang baru tumbuh dua tahun terakhir agaknya patut diapresiasi atas keberanian mereka dalam memberikan warna berkesenian di daerah tandus seni rupa itu, mulai dari proses berkesenian setiap hari, persiapan pameran hingga tampilan akhir pada pameran.

Dengan persiapan pameran yang cukup panjang menghasilkan sebuah pameran seni rupa cukup menarik, rapi dan layak dinikmati para pengunjung mulai 27 Agustus hingga 3 September 2016 .  



Pewarta: Donatus Dasapurna Putranta
Editor : Donatus Dasapurna Putranta

COPYRIGHT © ANTARA 2026