Kami berharap dioperasikannya pabrik es ini dapat membantu nelayan tradisional dalam meningkatan usaha dan kesejahteraan keluarganya.Toboali (Antara Babel) - Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, kembali mengoperasikan pabrik es di Desa Sadai dalam upaya meningkatkan kualitas hasil tangkapan ikan nelayan tradisional di daerah itu.
"Kami berharap dioperasikannya pabrik es ini dapat membantu nelayan tradisional dalam meningkatan usaha dan kesejahteraan keluarganya," kata Kepala DKP Kabupaten Bangka Selatan Basu Priatna di Toboali, Selasa.
Ia menjelaskan pabrik es di Pusat Pelelangan Ikan (PPI) Desa Sadai itu sebelumnya rusak berat dan sekarang sudah dapat memproduksi 15 ton per hari dan cukup untuk memenuhi permintaan nelayan tradisional di desa itu.
"Hasil uji coba pekan lalu waktu lalu, pabrik es ini hanya mampu memproduksi es 15 ton per hari, namun hanya bisa disalurkan kepada nelayan 10 ton, sementara sisanya untuk menjaga suhu di dalam pabrik itu agar mesin tidak drop," katanya.
Ia mengatakan anggaran untuk memperbaiki mesin hingga pabrik itu kembali berproduksi mencapai Rp1.883.000.000 berasal dari APBD 2016.
"Alhamdulillah sekarang pabrik sudah kembali beroperasi dan sudah bisa membantu nelayan Desa Sadai, Penutuk, dan Lepar Pongok," ujarnya.
Dia menjelaskan pengoperasian pabrik es sesuai dengan kapasitas mesin. Kalau dipaksakan untuk memenuhi kebutuhan es nelayan maka akan kembali rusak, oleh sebab itu harus dioperasi secara pelan-pelan.
"Pembenahan tetap dilakukan agar pabrik es ini untuk membantu nelayan untuk mengawetkan ikan," katanya.
Ia berharap, pabrik es dapat berjalan secara normal sehingga nelayan tidak kesulitan mendapatkan balok es untuk menjaga kualitas hasil tangkapan ikannya.
"Selama ini nelayan tradisional terpaksa membeli es untuk mengawetkan ikan ke Bangka Tengah, Bangka Barat, dan Pangkalpinang sehingga biaya operasional melaut yang mereka keluarkan cukup besar," ujarnya.
Pewarta: JuniardiEditor : Mulki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.