Bangka Barat, Babel (ANTARA) - Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung melatih 50 pelajar membuat resensi buku berbasis koleksi yang ada di Perpustakaan Daerah guna meningkatkan kemampuan membaca, menelaah, dan penalaran generasi muda di daerah itu.
"Kali ini kita libatkan sebanyak 50 orang pelajar dari tingkat sekolah menengah pertama dan menengah atas. Kami berharap mereka mampu meningkatkan literasi yang kritis," kata Kepala Bidang Pembinaan Perpustakaan DPK Bangka Barat Eka Octawianto di Mentok, Jumat.
Kegiatan ini merupakan implementasi nyata dari komitmen Pemkab Bangka Barat dalam membangun budaya membaca yang berkualitas dengan memanfaatkan anggaran dari Dana Alokasi Khusus (DAK) nonfisik Perpustakaan Nasional.
Dukungan pendanaan ini dinilai strategis dalam menciptakan ekosistem literasi dinamis, dalam hal ini masyarakat tidak hanya menjadi pembaca pasif, tetapi juga mampu menganalisis, mengevaluasi, dan berbagi pemikiran tentang konten buku secara mendalam.
Program ini dirancang dengan dua tujuan utama, yaitu sesi pembekalan untuk melatih peserta memiliki keterampilan meresensi buku yang baik dan kritis, dan bertujuan menjadi wadah praktik sekaligus ajang apresiasi bagi para penulis resensi terbaik yang ditampung melalui lomba.
"Kita juga mengambil buku koleksi Perpusda untuk dijadikan bahan resensi, baik buku fisik maupun digital, ini kami harapkan bisa mempromosikan kekayaan koleksi kita," katanya.
Menurut dia, pelatihan dan lomba seperti itu merupakan sebuah investasi untuk membangun generasi giat belajar yang analitis dan komunikatif.
"Kami ingin transformasi dari sekadar membaca menjadi memahami dan menanggapi isi bacaan terjadi secara masif di Bangka Barat," ujarnya.
Kegiatan pembekalan dan lomba resensi buku berbasis koleksi perpustakaan ini, diharapkan menjadi katalisator transformasi literasi di Bangka Barat, sehingga mampu melahirkan pembaca yang tidak sekadar menelan informasi, tapi mampu mencerna, mengkritisi, dan menuangkan gagasan secara sistematis melalui resensi.
Dengan memiliki keterampilan itu diyakini mereka akan mampu menjadi agen perubahan yang menyebarkan virus literasi kritis di sekolah, masyarakat, dan komunitas lainnya.
Melalui program itu juga akan menghidupkan koleksi perpustakaan yang selama ini mungkin terabaikan, seperti buku-buku sejarah lokal, sastra melayu pesisir, atau kearifan tradisional diangkat dalam resensi.
"Khazanah ini tidak hanya ditemukan kembali, tapi juga jadi bahan diskusi publik, dan pola ini akan memiliki dampak dalam meningkatkan jumlah kunjungan perpustakaan," katanya.
Pihaknya mendorong munculnya komunitas pelaku resensi yang secara mandiri terus mengulas koleksi baru, menjadikan perpustakaan sebagai ruang hidup, tempat ide-ide bertemu sehingga pengetahuan semakin berkembang.
Pola baik ini akan terus dikembangkan sehingga bantuan dana dari Pemerintah Pusat seperti ini tidak hanya terserap, namun juga memiliki manfaat dan tepat sasaran untuk melahirkan generasi melek analisis, percaya diri berpendapat, dan bangga akan literasi lokal.
Meskipun memiliki dampak dalam jangka panjang, namun menurut dia, masyarakat perlu melakukan pergeseran dari budaya baca pasif menuju masyarakat yang aktif menalar, berdebat, dan menulis, dengan memanfaatkan perpustakaan sebagai pusat kegiatan.
Pewarta: Donatus Dasapurna PutrantaUploader : Bima Agustian
COPYRIGHT © ANTARA 2026