Bangka Barat, Babel (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memfasilitasi pelaksanaan tradisi Rebo Kasan digelar warga Desa Airnyatoh sebagai upaya pelestarian budaya lokal.
"Hari ini kita laksanakan ritus Rebo Kasan, tradisi ini sudah ada dan masih dilaksanakan secara turun-temurun olah warga setempat," kata Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangka Barat Muhammad Ferhad Irvan di Mentok, Rabu.
Dia menjelaskan kelestarian adat yang dilaksanakan warga Desa Airnyatoh, Simpangteritip, ini menarik dan penting untuk terus dijaga dan dimungkinkan untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisatawan datang ke daerah itu.
Ia menyebut tradisi Rebo Kasan selalu menarik perhatian warga, karena saat Rabu terakhir pada bulan Safar ini sebagai kesempatan tepat untuk memperbanyak doa, memohon perlindungan kepada Allah dari berbagai musibah.
Pada prosesi yang digelar warga Desa Airnyatoh, terdapat prosesi "Ketupat Lepas" sebagai simbol dan diyakini mampu memutus berbagai malapetaka agar tidak dihadapi warga pada tahun berikutnya.
Pada prosesi ini, tetua adat memanjatkan doa pujian dan meminta keselamatan yang diakhiri dengan proses memutus ikatan ketupat berisi beras. Prosesi ini dinamai Ketupat Lepas.
Setelah ritual itu, para peserta diberikan bubur beras berwarna merah dan putih untuk dinikmati bersama-sama.

Pelaksanaan tradisi Rebo Kasan merupakan ikhtiar spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memperkuat harapan mendapatkan keselamatan dan keberkahan hidup pada tahun berikutnya.
"Jika dilihat dari seluruh rangkaian prosesi ini merupakan perpaduan antara nilai-nilai tradisi lokal yang dipadukan dengan agama, sebagai bentuk permohonan perlindungan kepada Allah," ujarnya.
Tradisi Rebo Kasan di Bangka Barat juga dijumpai di beberapa desa lain, antara lain Desa Bukitterak, Airlimau, dan Cupat.
Ritus Rebo Kasan sebagai salah satu objek kebudayaan tersebut akan terus mendapatkan perhatian dari pemerintah, bahkan sudah dimasukkan dalam upaya pemajuan kebudayaan untuk dilindungi dan dikembangkan demi kesejahteraan masyarakat.
Pemkab Bangka Barat membantu upaya masyarakat melestarikan berbagai adat dan tradisi sebagai kekayaan budaya, bahkan tahun depan akan disiapkan anggaran cukup besar, sekitar Rp1,2 miliar, khusus untuk kegiatan adat dan tradisi di daerah itu.
"Ini bentuk keseriusan pemerintah dalam upaya pelestarian, kita juga akan bekerja sama dengan Bidang Promosi Pariwisata agar kegiatan itu semakin menarik dikunjungi wisatawan," katanya.
