Pangkalpinang (ANTARA) - Dalam rangka memperingati 70 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA), Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) bekerja sama dengan Group of Research on Identities and Cultures (GRIC) dari Fakultas Hubungan Internasional, Universitas Le Havre Normandy, Prancis, menyelenggarakan rangkaian konferensi akademik internasional pada 28-29 Oktober di Bandung. Konferensi bertajuk “Bandung at 70: What Assessments and What Perspectives to Build the World Anew” ini dihadiri oleh puluhan akademisi dari berbagai negara.

Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya Sugiarto, dalam sambutan pembukaannya seperti rilis yang diterima di Pangkalpinang, Kamis, menegaskan pentingnya Dasa Sila Bandung atau "Bandung Spirit" yang lahir dari KAA April 1955.

"Dasa Sila Bandung dibangun sebagai kompas moral bagi semua bangsa dunia dalam menjalankan hubungan antarnegara," ujarnya.

Ia menyatakan bahwa semangat Bandung adalah deklarasi bahwa perdamaian, keadilan, dan kerjasama harus diutamakan di atas konflik, penghisapan, dan ketakutan. Dalam lanskap global yang terus berubah, Bima Arya menekankan bahwa kekuatan suatu bangsa terletak pada dialog dan kerjasama, bukan pada dominasi dan kompetisi.

Konferensi ini juga menampilkan perwakilan dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Dewan Pakar Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri, Duta Besar Dr. Darmansjah Djumala.

Dalam makalahnya yang berjudul ”Envisioning Metadiplomacy in a Divided World: Soekarno’s To Build the World Anew Revisited”, Djumala menyoroti relevansi tema konferensi dengan pidato legendaris Presiden Soekarno di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 30 September 1960, berjudul ”To Build the World Anew”.

Djumala mengingatkan bahwa pidato Bung Karno tersebut baru saja diakui oleh PBB sebagai Memory of the World (Warisan Arsip Dunia). “Dengan status ini, pidato Bung Karno terbuka bagi masyarakat internasional untuk mempelajari dan mengkajinya, baik dalam tataran filosofis maupun praksis,” jelas Djumala yang pernah bertugas sebagai Duta Besar RI untuk Austria dan PBB di Wina itu.

Dalam paparannya, dia mengungkap benang merah antara KAA dan pidato Bung Karno di PBB. Nilai-nilai Dasa Sila Bandung seperti kemerdekaan, kedaulatan, kemanusiaan, keadilan, dan persatuan, digaungkan kembali dan dirangkum oleh Bung Karno dengan memperkenalkan prinsip-prinsip Pancasila kepada dunia.

Lebih lanjut, Djumala mengkritik kecenderungan diplomasi kontemporer yang seringkali terjebak dalam kalkulasi pragmatis cash and carry, logika penindasan, dan pertimbangan real-politik. Sebagai alternatif, ia memperkenalkan konsep “metadiplomasi”, yaitu diplomasi yang berbasis nilai (value-based diplomacy).

“Metadiplomasi adalah diplomasi yang mengedepankan moralitas, norma, dan etika, yang diinspirasi oleh nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia yang terkandung dalam Pancasila. Inilah saripati pidato Bung Karno di PBB pada 1960,” simpul Djumala dalam keterangan tertulisnya.

Konferensi akademik ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang refleksi sejarah, tetapi juga memberikan perspektif baru dalam membangun tatanan dunia yang lebih adil dan berkelanjutan, dengan merujuk pada warisan pemikiran yang ditinggalkan oleh KAA dan para pendiri bangsa.



Pewarta: Pers release
Editor : Joko Susilo

COPYRIGHT © ANTARA 2026