Pangkalpinang (ANTARA) - Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) dikenal sebagai salah satu daerah kepulauan di Indonesia dengan potensi besar di sektor pariwisata. Keindahan pantai berpasir putih, bebatuan granit raksasa, serta kekayaan budaya dan sejarah menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Seiring berlalunya masa pandemi, geliat wisata di Babel kembali meningkat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), hingga pertengahan 2025 tercatat lebih dari 400 ribu perjalanan wisatawan domestik menuju provinsi ini. Beragam kegiatan seperti Explore Babel dan Pesona Belitung Beach Festival turut menambah daya tarik wisata. Pemerintah daerah pun terus mendorong sektor pariwisata sebagai motor penggerak ekonomi baru, mengurangi ketergantungan terhadap tambang timah.
Daya tarik utama Babel terletak pada keindahan alam baharinya. Pantai-pantai selalu ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara. Selain itu, kuliner khas seperti lempah kuning, kemplang, dan otak-otak menjadi magnet tersendiri bagi para pengunjung.
Perkembangan sektor ini juga menggerakkan ekonomi masyarakat. Semakin banyak warga beralih profesi menjadi pelaku usaha wisata dengan membuka homestay, rumah makan, hingga penyewaan perahu wisata. Hal ini menunjukkan bahwa pariwisata berpotensi menjadi pilar ekonomi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan dibandingkan sektor pertambangan.
Namun di balik pesona tersebut, sejumlah tantangan perlu segera diatasi agar pariwisata Babel dapat berkembang secara berkelanjutan.
Pertama, masalah lingkungan akibat aktivitas tambang timah masih menjadi ancaman serius. Lubang bekas tambang yang belum direhabilitasi dan sedimentasi laut dapat mengurangi daya tarik wisata alam.
Kedua, akses dan fasilitas di beberapa destinasi wisata belum memadai. Jalan rusak, minimnya transportasi umum, serta keterbatasan fasilitas dasar seperti toilet dan tempat sampah masih menjadi keluhan wisatawan.
Ketiga, peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang pariwisata juga perlu diperhatikan. Pelatihan pemandu wisata, pengelola homestay, dan pelaku kuliner lokal sangat penting untuk menciptakan layanan wisata yang profesional dan berdaya saing.
Untuk menjadikan pariwisata sebagai pilar ekonomi baru yang berkelanjutan, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha menjadi kunci. Langkah-langkah strategis yang dapat dilakukan antara lain:
1. Melakukan rehabilitasi lahan bekas tambang menjadi kawasan ekowisata atau wisata edukatif.
2. Memberikan pelatihan kepada masyarakat lokal di bidang jasa wisata dan kuliner.
3. Meningkatkan infrastruktur dan aksesibilitas menuju destinasi wisata.
4. Menjaga kebersihan serta konservasi alam sebagai aset utama pariwisata Babel.
Dengan pengelolaan yang bijak dan terencana, sektor pariwisata di Bangka Belitung memiliki masa depan yang cerah. Keindahan alam bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga harus dijaga agar tetap lestari bagi generasi mendatang.
Sudah saatnya Bangka Belitung menatap masa depan pariwisata yang berkelanjutan, menjadikan alam bukan sekadar objek wisata, melainkan sumber kehidupan dan identitas daerah yang patut dijaga bersama.
*) Penulis adalah Mahasiswa Universitas Bangka Belitung, program studi Ilmu Politik
