Bangka Barat, Babel (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memfasilitasi pelaksanaan Festival Perang Ketupat yang akan dilaksanakan di kawasan Pantai Pasirkuning Tempilang pada Minggu (8/2/2026).
"Kami mengajak seluruh masyarakat untuk datang ramai-ramai ke lokasi itu karena kita akan menyaksikan bersama Festival Perang Ketupat Tempilang. Kegiatan ini merupakan tradisi warga yang sudah dilaksanakan turun-temurun dan menjadi salah satu daya tarik andalan untuk wisatawan datang ke Bangka Barat," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangka Barat Fachriansyah di Mentok, Kamis.
Tradisi Perang Ketupat dilaksanakan sebagai ritual tolak bala "taber kampong" (bahasa lokal untuk ritual bersih kampung), dan sebagai bentuk ungkapan rasa syukur setelah panen.
Pada perkembangannya ritual ini juga berfungsi sebagai bentuk syukur menyambut datangnya bulan suci Ramadhan pada bulan Ruwah (Sya’ban) yang di dalamnya terkandung semangat memperkuat solidaritas kekompakan masyarakat.
Dalam prosesi adat perang ketupat, nantinya akan dibentuk dua kelompok yang akan melakukan perang atau saling lempar ketupat sebagai simbol memerangi berbagai hal jahat. Pada prosesi ini perang yang sebenarnya bukan konflik namun warga saling melempar ketupat sebagai lambang persatuan.
OIeh warga setempat, tradisi ini diyakini sudah berlangsung ratusan tahun sebagai simbol perlawanan terhadap berbagai hal jahat dan menjaga kampung agar selalu aman, tenteram dan selamat.
"Tradisi Perang Ketupat Tempilang ini sudah ditetapkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai warisan budaya tak benda pada 2014, sedangkan dua tarian pendukung rangkaian ritual Perang ketupat yaitu Tari Serimbang juga masuk warisan budaya tak benda pada 2014 dan Tari Kedidi pada 2018," katanya.
Tiga objek budaya sudah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda Indonesia tersebut merupakan salah satu bentuk arti penting rangkaian tradisi Perang Ketupat bagi warga setempat dan sudah berlangsung turun-menurun sejak ratusan tahun lalu.
"Kita akan terus melestarikan dan mengembangkan rangkaian tradisi ini untuk mendukung pengembangan pariwisata daerah, untuk itu mari kita bersama-sama berkunjung ke Tempilang untuk menyaksikan tradisi ini sekaligus menguatkan silaturahim bersama masyarakat setempat," katanya.
Pewarta: Donatus Dasapurna PutrantaUploader : Bima Agustian
COPYRIGHT © ANTARA 2026