Koba, Babel (ANTARA) - Wakil Bupati Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Efrianda menyebut sistem pengelolaan sampah yang berjalan saat ini belum mampu mengimbangi peningkatan volume limbah dan keterbatasan fasilitas pembuangan, sehingga diperlukan terobosan baru yang lebih efektif dan berkelanjutan.
"Persoalan sampah berpotensi menimbulkan ancaman lingkungan apabila tidak ditangani secara komprehensif," kata Efrianda di Koba, Senin.
Ia menyebut hambatan utama berada pada minimnya sarana dan prasarana, serta lokasi pembuangan yang semakin terbatas.
“Pola dumping area tidak bisa dipertahankan karena tidak sesuai ketentuan dan berisiko terhadap lingkungan. Kita memerlukan solusi yang lebih terukur dan sejalan dengan regulasi,” ujarnya.
Ia mengatakan, beberapa wilayah, termasuk Pangkalanbaru, memiliki kerentanan lingkungan dan sosial sehingga diperlukan mekanisme teknis yang lebih matang.
"Kita saat ini memperkuat pengelolaan dari hulu melalui pembentukan bank sampah untuk mendorong budaya pemilahan dan pengurangan sampah," ujarnya.
Sejumlah opsi solusi tengah dipertimbangkan, termasuk penerapan teknologi pengolahan sampah secara termal menggunakan incinerator autothermal.
"Teknologi ini memanfaatkan nilai kalor sampah sebagai sumber panas sehingga tidak memerlukan tambahan bahan bakar dan dapat mengurangi volume sampah lebih dari 90 persen," ujarnya.
Incinerator tersebut didesain untuk sampah domestik seperti organik kering, plastik aman, kertas, karton dan kayu, namun tidak diperuntukkan bagi limbah B3, elektronik, material konstruksi, limbah medis, dan limbah radioaktif. Hasil akhirnya berupa abu ringan 5–10 persen yang dapat langsung ditimbun sebagai landfill.
Selain teknologi termal, pemerintah daerah setempat juga menyoroti pentingnya penguatan ekonomi sirkular melalui pengelolaan limbah plastik berbasis daur ulang.
"Pendekatan ini mendorong pemilahan sampah dari sumbernya, pengolahan plastik seperti PET, PP, HDPE, LDPE, serta plastik campuran, dan pemanfaatannya menjadi produk bernilai ekonomi," ujarnya.
Model ekonomi sirkular dinilai dapat menekan timbulan sampah plastik, membuka peluang usaha dan pemberdayaan masyarakat, serta memperkuat pengelolaan lingkungan jangka panjang.
Pemkab menyatakan seluruh alternatif tersebut akan dibahas lebih lanjut bersama pemangku kepentingan guna memastikan penerapannya sesuai ketentuan dan mendukung arah pembangunan ekonomi biru dan hijau di Bangka Tengah.
