Belitung (ANTARA) - Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, membawa lima isu utama dalam kegiatan Rakernas Pinsar Indonesia dan diskusi perunggasan yang berlangsung di Yogyakarta.
"Ada lima isu utama utama yang kami bawa dalam rakernas di Yogyakarta" kata Ketua Pinsar Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Yahya dalam keterangan resmi yang diterima ANTARA di Tanjungpandan, Selasa.
Menurut dia, kelima permasalahan tersebut adalah terkait populasi unggas pihak kemitraan yang lebih (over), keterbatasan bibit ayam atau Day Old Chick (DOC), peran pemerintah dalam pengaturan dan pengawasan unggas, monopoli atau persaingan yang tidak sehat, dan mendorong kehadiran payung hukum atau regulasi yang berpihak pada peternak unggas mandiri khususnya di daerah.
"Kelima isu ini adalah momok yang selama ini dihadapi oleh para peternak unggas mandiri di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung," ujarnya.
Yahya menambahkan, kehadirannya dalam rakernas Pinsar Indonesia bersama Sekretaris Pinsar Babel, Henderawan dan Bendahara Pinsar Babel, Eko Purnomo merupakan bentuk komitmen organisasi guna memperkuat peran dan kontribusi insan perunggasan daerah terhadap kebijakan dan arah pembangunan perunggasan nasional.
Ia menjelaskan, rakernas ini menjadi forum strategis bagi seluruh pengurus wilayah se-Indonesia untuk menyusun program kerja, mengevaluasi kinerja organisasi, serta membahas berbagai isu aktual di sektor perunggasan.
"Mulai dari produksi, distribusi, hingga tantangan pasar dan kebijakan pemerintah," katanya.
Ia berharap rakernas ini dapat membawa manfaat besar bagi pengembangan sektor perunggasan di Bangka Belitung.
"Hasil diskusi dan keputusan Rakernas akan menjadi acuan kami dalam menyusun program kerja daerah agar lebih terarah dan selaras dengan kebijakan nasional,” ujarnya.
Pewarta: ApriliansyahUploader : Bima Agustian
COPYRIGHT © ANTARA 2026