Denpasar (ANTARA) - Persoalan sampah di Bali yang disorot Presiden Prabowo Subianto, di sela-sela Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah di Sentul, Jawa Barat, Senin, 2 Februari 2026 menekankan kembali perlunya upaya lebih masif dan agresif untuk mengatasi limbah tersebut.

Sorotan Kepala Negara itu, kemudian langsung direspons keesokan harinya oleh sejumlah pihak di Bali, dengan melakukan bersih-bersih sampah, salah satunya di objek wisata Pantai Kuta, Kabupaten Badung.

Ribuan orang dari unsur TNI, Polri, instansi pemerintah daerah, komunitas lingkungan, hingga para pelajar, terlibat membersihkan sebaran sampah kiriman, termasuk sampah plastik yang mengotori bibir pantai.

Gubernur Bali Wayan Koster juga merespons, segera membentuk satuan tugas kebersihan pantai.

Persoalan sampah tak hanya ditemukan di pesisir, namun juga di lingkungan permukiman, baik perkotaan maupun perdesaan yang masih belum tertangani optimal.

Selain itu, Tempat Pemprosesan Akhir (TPA) Suwung, Denpasar, saat ini juga mengalami problematika karena dinilai sudah melebihi kapasitas.

Berdasarkan data Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Provinsi Bali, per hari rata-rata volume sampah di Pulau Dewata diperkirakan mencapai 3.436 ton, sebanyak 60 persen di antaranya adalah sampah organik dan 17 persen adalah plastik.

Kota Denpasar berkontribusi paling tinggi, yakni menghasilkan volume sampah rata-rata per hari mencapai 1.005 ton.

Keterlibatan aktif masyarakat sangat dibutuhkan dalam menangani kompleksnya persoalan sampah, termasuk sampah plastik.

Di balik semua itu, ada cara out of the box yang bisa dilakukan melalui pengendalian sampah plastik dari sumber, yaitu inovasi mengolah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM).

BBM dari plastik

Sebagian besar masyarakat masih melihat sampah plastik sebagai limbah yang tak ada gunanya.

Pola pikir menjadikan plastik bekas berakhir tragis hanya menjadi sampah, bahkan tidak terpilah, sudah seharusnya diubah menjadi terobosan yang mungkin tidak terlintas di benak masyarakat.

Hal inilah yang dilakukan Yayasan Get Plastic Indonesia yang markas di Sibang Kaja, Kabupaten Badung, Bali, yang membuat inovasi menjadi sebuah peluang, dengan menyulap sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM).

Ketua Yayasan Get Plastic Indonesia Dimas Bagus Wijanarko mengungkapkan ide memproduksi sampah plastik menjadi energi berangkat dari masalah sampah, khususnya plastik yang belum terselesaikan optimal.

Untuk itu, sejak 2013 pihaknya mulai fokus melakukan riset memproduksi sampah plastik menjadi bahan bakar minyak menggunakan teknologi yang sudah berkembang di dunia yaitu pirolisis.

Pirolisis merupakan teknologi yang menggunakan metode pemanasan untuk bahan tertentu, termasuk dari plastik, dengan suhu tinggi, yakni di atas 350 derajat.

Bersama tim di Bali yang berjumlah 10 orang, secara otodidak mereka membuat mesin pengolah sampah plastik menjadi BBM.

Total ada tiga mesin yang saat ini dimiliki dan telah mengalami serangkaian pengujian, hingga dapat digunakan untuk menghasilkan BBM.

Masing-masing mesin itu memiliki kapasitas olah lima, 10, dan 20 kilogram sampah plastik.

Mesin pengolah sampah plastik dengan kapasitas 10 kilogram itu tidak terlalu besar, dengan ukuran 125 cm x 56 cm x 160 cm dan bisa dibawa berpindah-pindah karena dilengkapi roda di empat sisinya.

Mesin tersebut dilengkapi tabung kondensor, dua unit reaktor, wadah penampungan air, hingga keran yang mengalirkan hasil BBM.

Mesin tersebut memang belum mengantongi standar nasional Indonesia (SNI) karena belum diproduksi di tanah air.

Meski begitu, Dimas menjelaskan seluruh komponen dalam mesin pengolahan itu sudah ber-SNI.

Cara kerja

Sampah plastik yang dikumpulkan dari masyarakat itu, sekaligus sebagai sarana kampanye lingkungan agar timbulan sampah dapat tertangani optimal.

Setelah dikumpulkan, limbah plastik itu diproduksi menjadi BBM yang terlihat cukup sederhana, dengan memanfaatkan teknologi pirolisis. Teknologi itu menggunakan metode destilasi, yaitu pemanasan sampah plastik dalam kondisi kering.

Sampah plastik dalam kondisi kering dimasukkan ke dalam tabung pada mesin berkapasitas 10 kilogram untuk seluruh jenis plastik, mulai dari botol kemasan plastik, tas kresek, sedotan, hingga jenis plastik lainnya.

Di dalam tabung itu tidak boleh ada ruang hampa, artinya tabung harus penuh sampah plastik yang kering. Kering dan tidak ada ruang kosong, tujuannya untuk memastikan tidak ada oksigen.

Ini bukan proses pembakaran karena tidak membutuhkan oksigen. Kalau pembakaran, maka butuh oksigen untuk menyalakan apinya, kata Dimas.

Setelah tabung penuh, maka mesin siap dihidupkan. Plastik yang dipanaskan dalam suhu hingga 350 derajat Celcius akan berubah menjadi gas.

Gas tersebut kemudian ditangkap oleh tenaga mekanik putar, kemudian ditransfer ke kondensor menjadi uap.

Ketika uap bertemu dengan pendingin, maka akan berubah menjadi likuid atau cairan. Cairan inilah yang kemudian dikonversi menjadi bensin, solar, atau minyak tanah.

Cairan itu kemudian akan difraksi atau memisahkan densitas atau berat massa pada reaktor kedua.

Kalau berat massa ringan, seperti bensin, maka dia akan terpisah sendiri. Kalau massa berat, dia tetap di reaktor menjadi solar, ujarnya.

Selama sekitar tiga jam proses pengolahan, keran pun siap mengalirkan BBM.

Untuk kapasitas 10 kilogram sampah plastik, bisa menghasilkan sekitar 10 liter solar yang saat ini fokus diproduksi.

Pihaknya memperkirakan rata-rata produksi BBM dari bahan sampah plastik itu sudah mencapai sekitar 5.000 liter per tahun.

Dalam proses destilasi itu, juga menghasilkan residu berupa sekitar 0,5 kilogram berupa bubuk karbon dari 10 kilogram sampah plastik. Bubuk residu itu bisa diolah menjadi suvenir, seperti asbak, blok paving hingga briket.

Terkait pengukuran, yayasan itu telah melakukan uji laboratorium di lembaga terkait, dengan hasil kualitas bahan bakar bensin yang diuji di Pertamina memiliki angka cetane 92,3 dan solar mengandung 63 persen angka cetane yang diuji oleh dua lembaga pemerintah.

Peluang BBM plastik

Sementara itu, konsumsi BBM, salah satunya solar dari sampah plastik itu masih terbatas digunakan untuk kendaraan operasional yayasan, termasuk bus pariwisata yang kerap digunakan untuk kampanye ramah lingkungan dari yayasan itu juga memanfaatkan BBM sampah plastik.

Selain itu, BBM didonasikan kepada petani sekitar yayasan di Gerih, Kabupaten Badung, untuk sumber energi traktor, kemudian digunakan oleh bus shuttle di Yogyakarta, hingga mitra dampingan di sejumlah kota di tanah air.

Adapun hasil pengujian yang dilakukan salah satu dinas pemerintah daerah di Yogyakarta mencatat emisi yang dihasilkan terbilang rendah, yakni 2,7 persen.

Dimas memiliki visi BBM dari sampah plastik itu bisa diproduksi massal, sehingga mengurangi persoalan sampah yang mencemari lingkungan.

Terkait inovasi itu, Manager Komunikasi, Relasi dan Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL/CSR) Pertamina Patra Niaga Wilayah Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara (Jatimbalinus) Ahad Rahedi mengapresiasi terobosan yayasan tersebut.

Pihaknya menilai inovasi itu menarik untuk disinergikan dengan program CSR BUMN minyak dan gas bumi itu untuk program berkelanjutan.

Ahad menilai sinergi, kolaborasi, dan potensi replikasi untuk BBM dari sampah plastik di wilayah potensial dapat menjadi salah satu bentuk dukungan.

Tantangan saat ini adalah bagaimana memperbesar inovasi-inovasi yang melibatkan masyarakat tersebut, khususnya soal sampah plastik. Perlu keberanian dan investasi yang besar dalam memproduksi BBM alternatif dari sampah plastik.

Demi lingkungan dan masa depan bangsa, tidak ada salahnya melirik inovasi itu sebagai salah satu jalan keluar mewujudkan mandiri energi, sekaligus menekan timbulan sampah.



Editor : Rustam Effendi
COPYRIGHT © ANTARA 2026