Pangkalpinang (ANTARA) - Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) mengoptimalkan Program Penggerak Lingkungan Kelola Sampah "Pelikas" menggelola sampah plastik di Kota Pangkalpinang Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menjadi minyak energi yang ramah lingkungan.
"Pertamina mendukung penuh mitra binaan Kelompok Sahabat Farm dalam mengelola sampah organik dan non-organik menjadi produk bernilai ekonomi," kata Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel Rusminto Wahyudi dalam keterangan pers diterima LKBN ANTARA Babel di Pangkalpinang, Rabu.
Ia mengatakan mitra binaan Kelompok Sahabat Farm di Pangkalpinang dalam program Pelikas Pertamina Sumbagsel menerima alat konversi sampah plastik berkapasitas 300 kilogram menjadi minyak energi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
"Kolaborasi ini tentunya menjadi model pengelolaan sampah berkelanjutan yang melibatkan riset, akademisi, korporasi, dan pemerintah daerah," ujarnya.
Ia menyatakan Kelompok Sahabat Farm Pangkalpinang adalah bukti nyata bahwa mitra binaan yang konsisten dapat dipercaya mengelola program dari berbagai pihak.
"Pertamina tentunya akan terus mendukung keberlanjutan operasional melalui PLTS, melengkapi ekosistem pengelolaan sampah yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomi," ujarnya.
Menurut dia melalui program Pelikas ini, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel memperkuat kolaborasi multipihak dalam pengelolaan sampah berkelanjutan. Sinergi tersebut menjadi bukti bahwa inovasi teknologi, pemberdayaan masyarakat.
"Dengan adanya sinergi ini tentunya pengembangan energi terbarukan ini dapat berjalan beriringan, sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) khususnya Tujuan 12 yaitu Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta Tujuan 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan," katanya.
Ketua Peneliti Riset Inovasi dan Implementasi Material (RIIM 3), Karna Wijaya menyampaikan bahwa teknologi konversi ini terbuat dari stainless steel berkualitas tinggi, lebih aman dan ekonomis dibandingkan drum besi konvensional.
"Sahabat Farm memiliki track record yang baik dalam pengelolaan sampah organik, sehingga kami percaya mereka dapat memanfaatkan alat ini secara optimal untuk mengelola sampah anorganik. Kami berharap inovasi ini dapat direplikasi di berbagai daerah," jelasnya.
Nurhayati, Bendahara Sahabat Farm menyampaikan rasa syukur atas kepercayaan dan dukungan dari berbagai pihak.
"Ini adalah kolaborasi luar biasa. Selama ini kami fokus pada sampah organik lewat maggot bersama Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, kini dengan alat konversi plastik kami bisa mengelola semua jenis sampah. Dukungan PLTS dari Pertamina juga sangat membantu untuk operasional alat ini," ujarnya.
