Jakarta (ANTARA) - Peneliti pada Consortium Studies on Smallholder Palm Oil (CSPO) Diana Chalil menegaskan, budidaya tanaman kelapa sawit pada lahan yang tepat akan menjadi kunci pemulihan ekonomi pasca bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Dibandingkan komoditas lainnya,menurut dia perkebunan sawit memberikan multiplier effect positif yang lebih besar baik secara sosial, ekonomi, maupun lingkungan.
Manfaat lingkungan tidak (selalu) lagi trade-off dengan manfaat ekonomi. Kita belajar pasca bencana tsunami di Aceh tahun 2004, sawit menjadi preferensi petani karena menguntungkan. Perkebunan sawit rakyat banyak dari konversi komoditi lain," kata ujar dia dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.
Dia mengatakan, baik secara nasional maupun regional pada daerah yang tertimpa bencana alam akhir tahun lalu, peran industri sawit sangat signifikan terhadap perekonomian.
"Karena itu, untuk memulihkan kondisi ekonomi pasca bencana, budidaya tanaman kelapa sawit menjadi pilihan yang paling efektif," katanya.
Menurut dia, 73,83 persen dari total pendapatan devisa nasional disumbang oleh sektor pertanian dimana kontribusi devisa terbesar adalah ekspor minyak sawit.
Secara regional, tambah Guru Besar bidang Ekonomi Pertanian Universitas Sumatra Utara (USU) itu sawit juga menjadi komoditas penyumbang devisa ekspor terbesar dari Aceh. Sementara di Sumatra Utara, sawit adalah komoditas penyumbang devisa terbesar ketiga.
Dari sisi penyerapan tenaga kerja, lanjutnya, secara nasional mencapai 16,5 juta orang pada 2024 yang terdiri dari tenaga kerja langsung dan tidak langsung, angka tersebut belum memperhitungkan tenaga kerja yang terserap pada sektor hulu, hilir, dan
jasa terkait dalam sistem dan usaha agribisnis sawit.
Dia menjelaskan, dari penelitian tim di CSPO, terjadi peningkatan pendapatan yang signifikan pada masyarakat di Sumatra Utara setelah melakukan budidaya kelapa sawit. Misalnya di Kecamatan Batang Toru Kabupaten Tapanuli Selatan, pendapatan masyarakat meningkat dari rata-rata Rp 31,8 juta per tahun menjadi Rp 42,1 juta.
Dia menegaskan, sawit merupakan komoditi yang berperan penting bagi perekonomian Indonesia. Sawit berpotensi untuk pemulihan ekonomi Sumut dan Aceh, oleh karena itu perlu dikelola dengan baik agar upaya pemulihan dapat berjalan konsisten dan mencapai hasil yang diharapkan.
Menurut dia, perkebunan sawit bukanlah penyebab bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat akhir tahun lalu, namun ke depan, tata kelola perkebunan kelapa sawit harus dilaksanakan secara berkelanjutan sehingga memberikan manfaat ekonomi dan tidak memberikan dampak buruk secara ekologis.
Sementara itu, Ketua Umum Rumah Sawit Indonesia (RSI) Kacuk Sumarto menegaskan, perekonomian wilayah terdampak bencana seperti Aceh dan Sumatra Utara sangat bergantung kepada industri sawit. Karena itu, tidak mungkin ditinggalkan.
Hanya saja, tata kelola sektor pertanian dan perkebunan harus memperhatikan aspek kesesuaian lahan dengan komoditas yang akan ditanam.
Jika aspek ekofisiologis diperhatikan, maka perkebunan sawit di seluruh Indonesia akan berkembang di tengah ekosistem lingkungan yang berkelanjutan, katanya dalam diskusi bertema Perubahan Iklim Global Sebagai Pemicu Bencana di Sumatra .
Kacuk mengatakan, perkebunan sawit di Sumatra Utara sudah ada sejak lebih satu aba, selama itu kondisi lingkungan di sekitar perkebunan sawit tetap terjaga dengan baik.
Namun, lanjutnya perubahan iklim yang terjadi saat ini menjadi tantangan baru bagi pelaku sektor perkebunan dan pertanian.
Bagaimana dampak ekonomi yang positif tetap kita terima, tetapi risiko ekologisnya bisa diminimalkan, katanya.
Pewarta: SubagyoUploader : Rustam Effendi
COPYRIGHT © ANTARA 2026