Bangka Barat, Babel (ANTARA) - Perpustakaan Daerah Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menerima sejumlah buku tentang sejarah sumbangan dari keluarga Korban Perang Dunia II yang saat ini sedang melakukan kunjungan ke Mentok dalam rangka mengenang tragedi tersebut.

"Ini sebuah kehormatan karena keluarga korban Perang Dunia II yang berasal dari Australia mengunjungi Perpusda sekaligus menyumbangkan lima buku yang seluruhnya ada kaitannya dengan sejarah Perang Dunia II," kata Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bangka Barat Farouk Yohansyah di Mentok, Rabu.

Sebanyak lima buku sejarah yang diserahkan keluarga korban yaitu White Coolies, Sister Viv Grantlee Kieza, Sisters In Captivity, Back to Bangka, dan The Evacuation of Singapore to The Prison Camps of Sumatra.

 

Lima judul buku ini seluruhnya ada kaitannya dengan tragedi Perang Dunia II yang terjadi di Mentok, Bangka Barat.

Lima judul buku sejarah sumbangan keluarga Korban Perang Dunia II yang meninggal di Mentok untuk Perpusda Bangka Barat. ANTARA/ Donatus Dasapurna.


Kunjungan para keluarga korban ke Bangka Barat merupakan rangkaian peringatan 84 tahun gugurnya pasukan Australia dan negara sekutu di Kota Mentok, sekaligus momen penting dalam memperkuat hubungan kemanusiaan, pelestarian sejarah, serta persahabatan antarbangsa melalui literasi dan dokumentasi sejarah.

Selama kunjungan, para keluarga korban Perang Dunia II melihat langsung berbagai koleksi buku yang tersedia di ruang baca umum dan ruang baca anak.

"Sumbangan buku sejarah berisi kisah para tahanan perang di Mentok dari keluarga korban ini merupakan bentuk kontribusi terhadap pelestarian sejarah, kami menyampaikan apresiasi karena koleksi tersebut akan menjadi sumber pengetahuan berharga bagi masyarakat dan generasi mendatang," katanya.

Ia berharap kunjungan ini tidak hanya menjadi bagian dari kegiatan peringatan sejarah, namun juga kerja sama yang baik lintas negara.

"Momentum ini juga sebagai pengingat, bahwa perpustakaan memberikan ruang dialog lintas budaya, penjaga memori kolektif, pusat pembelajaran tentang nilai-nilai perdamaian dan kemanusiaan," katanya.

Ia mengatakan, Perpusda Bangka Barat terus mendorong anak muda untuk membaca buku sebagai fondasi penting untuk berpikir kritis dan empati.

"Di era serba digital dan kecenderungan memegang gawai di kalangan anak muda, kami siasati dengan terus menciptakan program-program untuk membuat membaca menjadi menyenangkan dan bermakna bagi semua usia," katanya.

Berbagai kegiatan yang secara rutin dilaksanakan di Perpusda Bangka Barat antara lain kunjungan literasi dari tingkat TK hingga SLTA, program membaca cepat, dan pojok bahasa yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan literasi sekaligus keterampilan berbahasa asing.



Pewarta: Donatus Dasapurna Putranta
Uploader : Rustam Effendi

COPYRIGHT © ANTARA 2026