"Kalau industrinya tak berubah, maka dia akan begitu cepat jadi tidak relevan dan kalah bersaing. Kalau industri tak berubah, maka terjadi 'industrial shock', baik 'bussiness shock' atau 'manpower shock'."
"Mungkin dia bisa bersaing dan 'survive' tapi konsekuensinya adalah PHK secara masif sehingga menimbulkan instabilitas di perusahaan bahkan instabilitas politik," katanya dalam acara "Learning Innovation Summit 2018" bertajuk Peran Pendidikan Vokasi dalam Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia yang digelar Ruangguru di Jakarta, Rabu.
Pemerintah disebutnya terus mendorong industri agar bertransformasi dari industri lama menjadi industri baru yang mengikuti perkembangan teknologi informasi yang cepat dan masif tersebut.
Hanif menyebut saat ini industri mengalami perubahan dan begitu juga jenis pekerjaan akan mengalami perubahan. Sementara itu, industri yang menutup diri dipastikan akan kalah bersaing dengan dunia mancanegara.
Untuk mengantisipasi "terbunuhnya" sejumlah pekerjaan akibat perkembangan teknologi informasi, Hanif mengatakan akan bermunculan pula sejumlah peluang pekerjaan baru.
Dalam kurun waktu tiga, lima, 10 hingga 20 tahun ke depan, sudah harus disiapkan pemetaan menyangkut sektor pekerjaan yang bakal tumbuh dan menyusut.
"Kami di Kemenaker menyiapkan pemetaan sektor pekerjaan yang akan tumbuh dan menyusul, setelah pekerjaan berubah maka 'skill' juga akan berubah. Saran saya pertimbangkan 'speed' dalam dunia usaha, inovasi," kata Hanif.
Menaker juga mengajak anak muda tetap optimistis dan bekerja keras dalam menghadapi perubahan yang sangat cepat saat ini.
"Kuncinya hari ini ada dua, kerja keras dan inovasi. Kalau anak-anak muda kita mau kerja keras dan inovasi, maka akan 'survive' di dunia yang penuh perubahan sekarang ini," tuturnya.
Pewarta: Arie NovarinaEditor : Riza Mulyadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.