"Naiknya cukup tinggi, sebelumnya hanya sekitar Rp 900 hingga Rp 1.000 perbutir, kini sudah mencapai Rp 1.600 perbutir tidak menutup kemungkinan nanti akan naik lagi apalagi menjelang hari raya Imlek," kata salah seorang pembeli Mutmainnah di Pasar Sungailiat, Kamis.
Selaku ibu rumah tangga sekaligus pengusaha kue, Mutmainnah mengaku cukup terbebani dengan kenaikan harga telur. Kenaikan tersebut sangat berpengaruh dengan usaha yang sekarang ia geluti.
"Kalau harga telur mahal, untung kita menjadi sangat tipis kalau kita naikkan harga, maka permintaan akan menurun,"ujarnya.
Martini salah seorang pembeli lainnya mengatakankan, kenaikan harga telur di tingkat pengecer membuatnya harus mengeluarkan biaya ekstra untuk membeli kebutuhan pokok sehari-hari salah satunya telur.
"Kenaikan harga telur ini dirasakan cukup memberatkan apalagi saat ini ekonomi sudah sangat sulit belum lagi ditambah kebutuhan sembilan bahan Pokok (Sembako) yang juga merangkak naik," ujarnya.
Ia mengatakan, telur merupakan bagian dari kebutuhan pokok sehari-hari yang mayoritas banyak dikonsumsi masyarakat dan kami berharap agar harga telur bisa kembali normal.
"Mudah-mudahan kenaikan harga telor tersebut tidak berlangsung lama dan kembali seperti semula sehingga bisa meringankan beban ekonomi warga," harapnya.
Sayuti salah satu pedagang telur di Sungailiat mengatakan, cuaca buruk yang terjadi dalam beberapa hari terakhir mempengaruhi tersendatnya pasokan dari luar daerah sehingga stok berkurang dan otomatis harganya merangkak naik.
"Pasokan dari luar daerah tidak masuk karena ombak laut yang tinggi sehingga kapal tidak bisa berangkat sedangkan persediaan telur di pedagang semakin menipis dan memicu naiknya harga," ujarnya.
Pewarta: Pewarta:KasmonoUploader : Rustam Effendi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.