"Dalam sebulan terakhir ini, kami tidak lagi mendapatkan pasokan pelet, jagung, dedak dan lainnya dari luar daerah karena kondisi cuaca di perairan yang memburuk,"
Pangkalpinang (Antara Babel) - Stok pakan ternak jenis unggas di Kota Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung (Babel), terbatas karena pedagang tidak lagi mendapatkan pasokan dedak dari Pulau Jawa dan Sumatera.


"Dalam sebulan terakhir ini, kami tidak lagi mendapatkan pasokan pelet, jagung, dedak dan lainnya dari luar daerah karena kondisi cuaca di perairan yang memburuk," ujar salah seorang distributor pakan ternak, A Heng di Pasar Pembangunan Pangkalpinang, Kamis.


Ia menjelaskan, keterbatasan stok dedak ini, tidak sebanding dengan pemintaan yang masih normal, sehingga harga mengalami kenaikan hingga 100 persen, dari harga Rp2.500 perkilogram naik menjadi Rp5.000 per kilogram seiring meningkatnya permintaan peternak ayam.


Harga pakan ayam pelet merek confeed naik Rp310 ribu dari Rp286 ribu per karung (satuan 50 kilogram) dan harga musifit naik Rp290 robu dari Rp266 ribu perkarung (satuan 50 kilogram), jagung halus naik Rp110 ribu dari Rp62 ribu per karung (satuan 16 kilogram).


Demikian juga harga pakan ikan seperti pelet tipe 251 naik Rp260 ribu dari Rp210 ribu per karung (satuan isi 30 kilogram), harga pelet  tipe 552 naik Rp180 ribu dari  Rp150 ribu per karung (satuan isi 30 kilogram)


"Kami kurang tahu pasti, kapan pasokan kembali lancar, namun jelas saat ditanyakan ke pengusaha di Jakarta, pasokan tersendat karena kapal barang belum beroperasi seiring cuaca masih memburuk," ujarnya.


Ia berharap, pasokan pakan ternak ini kembali lancar, sehingga peternak tidak terlalu terbebani untuk mengembangkan peternakan ayamnya.


"Saat ini, usaha peternakan cukup terpukul karena tingginya biaya pakan ternak, sementara harga daging ayam tidak mengalami kenaikan," ujarnya.


Sementara itu, Iwan salah seorang peternak ayam kampung mengatakan, kenaikan harga pakan tersebut cukup menghambat usaha peternakan ayamnya.


"Selama ini, pakan ayam hanya dedak campur nasi, namun sejak harga dedak naik dan sulit didapatkan membuat usaha peternakan yang sudah dijalani beberapa tahun ini sulit berkembang, karena terkendala biaya untuk memenuhi pakan ayam," ujarnya.  


Ia mengatakan, untuk mengurangi biaya pakan ternak, kami terpaksa melepas ternak.


"Selama musim hujan ini untuk melepas ternak sangat beresiko, karena rawan dijangkiti berbagai penyakit unggas seperti flu, tetelo bahkan flu burung yang akan mematikan ayam peliharaan," ujarnya. 


Pewarta: Pewarta: Aprionis
Uploader : Rustam Effendi

COPYRIGHT © ANTARA 2026