"Deflasi ini terjadi karena adanya penurunan harga yang ditunjukan oleh penurunan indeks kelompok pengeluaran, yaitu kelompok bahan makanan yang mengalami deflasi sebesar 4,65 persen," kata Ketua BPS Babel, Herum Fajarwati di Pangkalpinang, Kamis.
Ia mengatakan, sedangkan kelompok yang mengalami kenaikan indeks yaitu kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,65 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,04 persen,
Selain itu kelompok sandang 0,15 persen, kelompok kesehatan 0,06 persen dan kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan 2,04 persen, sedangkan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga tidak mengalami perubahan indeks stabil.
Ia mengatakan, komoditas yang mengalami penurunan harga antara lain pada Maret 2014 yaitu, ayam hidup, tepung terigu, bawang putih, batako, kol putih/kubis, kelapa, daging sapi, tauge atau kecambah
Selain itu, tomat sayur, bayam, ketimun, kentang, bawang merah, semangka, tenggiri,kangkung, cabai rawit, telur ayam ras, kepiting atau rajungan, wortel, cabai merah, ikan kerisi, ikan selar atau tude, tongkol, daging ayam ras, dan ikan kembung.
Ia mengatakan, komoditas yang mengalami kenaikan harga pada Maret 2014 yaitu, angkutan udara, beras, mie, udang basah, ikan bulat, sawi hujau, susu untuk balita, kacang panjang, cumi-cumi,
Selain itu, minyak goreng, terong panjang, ikan asin belah, semen, sawi putih, emas perhiasan, keramik, shampo, air conditioner (AC),pembersih lantaiemping mentah dan susu bubuk.
Ia mengatakan, komoditas yang memberikan andil atau sumbangan deflasi pada Maret 2014 yaitu, kelompok bahan makanan 2,80 persen.
Sedangkan kelompok yang memberikan andil atau sumbangan inflasi yaitu kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,39 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,02 persen, kelompok sandang 0,09 persen, kelompok kesehatan 0,04 persen dan kelompok transpo, komunikasi dan jasa keuangan 1,23 persen.
"Berdasarkan hasil pantauan BPS di Kota Tanjungpandan pada Maret 2014 terjadi deflasi 1,03 persen, atau terjadi penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 116,63 pada Februari2 2014 menjadi 115,43 pada Maret 2014," katanya.
Ia mengatakan, IHK merupakan salah satu indikator ekonomi yang sering digunakan untuk mengukur tingkat perubahan harga (inflasi/deflasi) ditingkat konsumen, khususnya di daerah perkotaan.
"Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukan pergerakan harga dari paket komoditasyang dikonsumsi oleh rumah tangga di Indonesia, tingkat inflasi diukur dari presentase perubahan IHK dan diumumkan ke publik setiap awal bulan (hari kerja pertama) oleh Badan Pusat Statistik (BPS)," ujarnya.
Pewarta: Pewarta: AprionisUploader : Rustam Effendi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.