"Berdasarkan tradisi, makanan yang dibawa tidak ditentukan, tergantung kemampuan setiap keluarga dengan menu berbeda-beda tanpa memperhatikan kandungan gizi di dalamnya, hal ini yang perlu dimodifikasi misalnya dengan ketentuan makanan yang mengandun
Muntok, (Antara Babel) - Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung, mengusulkan adanya modifikasi tradisi "nganggung" atau kenduri bersama, untuk mendukung upaya perbaikan gizi balita dan ibu hamil di daerah itu.

Kepala Bidang Pembinaan Masyarakat dan Promosi Kesehatan Dinkes Kabupaten Bangka Barat, dr Rudi Faizul Badri, mengatakan tradisi "nganggung" atau kegiatan gotong royong seluruh kepala keluarga di suatu dusun atau desa membawa dulang berisi makanan seperti kue, nasi dan lauk-pauk ke mesjid atau langgar, makanan tersebut disesuaikan dengan status atau kemampuan tiap rumah.

"Berdasarkan tradisi, makanan yang dibawa tidak ditentukan, tergantung kemampuan setiap keluarga dengan menu berbeda-beda tanpa memperhatikan kandungan gizi di dalamnya, hal ini yang perlu dimodifikasi misalnya dengan ketentuan makanan yang mengandung gizi tinggi," kata Rudi di Muntok, Selasa.

Ia menjelaskan, modifikasi tersebut tidak mengubah nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut, namun secara kesehatan tentu akan sangat membantu kecukupan gizi masyarakat, terutama bagi balita dan ibu hamil.

"Jadi nantinya makanan yang dibawa tidak lagi makanan bersantan seperti yang biasa disajikan, namun bisa diganti dengan makanan lokal seperti kue dari telur, kroket, otak-otak, pempek, bakwan toge, godo-godo udang, dan berbagai makanan ikan olahan, sekaligus menumbuhkan program gemar makan ikan," katanya.

Selain memodifikasi menu makanan, kata dia, nganggung yang biasanya dilakukan pada saat hari besar keagamaan, seperti Idul Fitri dan Idul Adha, Maulud Nabi, dan Tahun Baru Muharram, bisa ditambah penyelenggaraannya menjadi sebulan sekali, tanpa meninggalkan hari besar tersebut.

"Biasanya dalam setahun hanya beberapa kali, namun kami berharap bisa dilakukan berkala sebulan sekali, disesuaikan dengan jadwal posyandu masing-masing desa. Kami harapkan rencana ini disetujui bupati dan gubernur untuk menjaga kearifan lokal sekaligus meningkatkan kesehatan balita dan ibu hamil," katanya.


Pewarta: Oleh Donatus Dasapurna Putranta
Editor : Aprionis

COPYRIGHT © ANTARA 2026