"Pembangunan patung Proklamator dan pejuang kemerdekaan yang diasingkan ke lokasi tersebut penting karena daerah ini ingin mengangkat sejarah sebagai ikon wisatanya,"Muntok, (Antara Babel) - Pesanggrahan Menumbing Muntok, Kepulauan Bangka Belitung, perlu dilengkapi dengan patung Proklamator RI dan para pejuang kemerdekaan yang pada zaman dahulu diasingkan di daerah itu, untuk memudahkan pengunjung memahami nilai sejarahnya.
"Pembangunan patung Proklamator dan pejuang kemerdekaan yang diasingkan ke lokasi tersebut penting karena daerah ini ingin mengangkat sejarah sebagai ikon wisatanya," kata Kepala Bagian Ekonomi dan Pembangunan Pemkab Bangka Barat, Ahmad Yahya di Muntok, Minggu.
Ia menjelaskan, saat ini Pesanggrahan Menumbing terkesan hanya merupakan bangunan kastil atau villa yang dibangun di puncak Gunung Menumbing, sementara kesan nilai sejarahnya belum terlihat dan belum bisa dirasakan pengunjung.
Dengan adanya patung-patung yang menggambarkan peristiwa sejarah yang ada di lokasi tersebut, diharapkannya akan mampu memudahkan pengunjung memahami nilai sejarah yang ada di Pesanggrahan Menumbing Kota Muntok, khususnya pada masa perjuangan Kemerdekaan RI yaitu pada saat Soekarno, M Hatta, M Roem, Ag Pringgodigdo, RS Suryadarma, Mr Assa'at, Sastroamidjojo dan lainnya yang diasingkan Belanda di daerah itu pada 1948-1949.
"Akan lebih baik jika patung Proklamator RI dan para pejuang kemerdekaan yang dibuat dalam beberapa penggal peristiwa, kami yakin akan mampu membawa nuansa perjuangan," kata dia.
Selain patung, kata dia, pembangunan beberapa relief yang menceritakan peran Kota Muntok sebagai salah satu kota bersejarah dalam perjuangan Kemerdekaan RI.
"Potensi sejarah menjadi ikon wisata Muntok, khususnya Pesanggrahan Menumbing, namun jika hanya menampilkan bentuk bangunan Pesanggrahan Menumbing saja, kami tidak yakin pariwisata akan berkembang seperti yang diharapkan, kami harapkan instansi terkait lebih kreatif dalam mengelola ikon wisata sejarah Babel tersebut," kata dia.
Sebelumnya, Bupati Bangka Barat, Zuhri M Syazali meminta dinas terkait melengkapi lokasi tersebut dengan studio visual mini untuk memudahkan pengunjung mempelajari sejarah yang ada di lokasi tersebut.
"Pengunjung akan lebih mudah mengingat jika mereka melihat langsung kilas balik kejadian, misalnya dengan film, cerita bergambar atau jika memungkinkan ada replika Soekarno, Hatta dan pejuang lainnya yang bisa bergerak dan berbicara sehingga ada kesan nyata saat pengunjung masuk ke studio mini tersebut," kata Zuhri.
Menurut dia, pembelajaran melalui audio visual lebih mengena dan mudah dipahami pengunjung dibandingkan dengan membaca teks pada buku panduan atau buku-buku sejarah, selain itu penyampaian dengan cerita bergambar atau replika bergerak lebih bisa dirasakan semangat yang terkandung pada peristiwa pengasingan para pejuang di Kota Muntok pada 1948.
Pesanggrahan Menumbing merupakan bangunan kastil di puncak gunung Menumbing yang memiliki ketinggian 445 meter di atas pemukaan laut, dibangun pada masa penjajahan Belanda yaitu pada 1927, dahulu lokasi tersebut dijadikan peristirahatan para petinggi perusahaan timah Banka Tinwinning Bedriff (BTW).
Pada masa kemerdekaan, tepatnya pada 22 Desember 1948 hingga 7 Juli 1949, lokasi itu menjadi tempat pengasingan M Hatta, Mr Pringgodigdo, Komodor Suryadarma, Mr M Assa'at, Mr Ali Sastroamidjojo dan Mr M Roem.
Selain memiliki Pesanggrahan Menumbing, di Kota Muntok juga terdapat Pesanggrahan Muntok atau Wisma Ranggam yang dibangun BTW pada 1827, bangunan tersebut, dahulu menjadi lokasi pengasingan Soekarno dan Agus Salim yaitu pada 6 Februari 1949 sampai dengan 9 Juli 1949.
"Penyampaian sejarah dengan visual berupa film, cerita bergambar, ornamen, patung dan simbol-simbol lainnya kami harapkan mampu mendekatkan rasa pengunjung dengan peristiwa sejarah yang ada di lokasi tersebut, kami berharap hal ini bisa menjadi pertimbangan instansi terkait untuk mengembangkan wisata sejarah Muntok," kata Ahmad Yahya.
Pewarta: Oleh Donatus Dasapurna PutrantaEditor : Aprionis
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.