"Harga cabai merah biasa turun menjadi Rp14 ribu dari harga sebelumnya Rp16 ribu per kilogram,"
Pangkalpinang, (Antara Babel) - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Bangka Belitung (Babel), menyatakan harga cabai di sejumlah pasar tradisional turun karena pasokan dan stok komoditas tersebut lancar dan mencukupi.  
    
"Harga cabai merah biasa turun menjadi Rp14 ribu dari harga sebelumnya Rp16 ribu per kilogram," kata Kabid Perdagangan Dalam Negeri Disperindag Babel Husni Thambrin di Pangkalpinang, Senin.

Harga cabai merah keriting turun menjadi Rp15 ribu dari harga sebelumnya Rp18 ribu per kilogram, harga cabai rawit hijau turun menjadi Rp22 ribu dari harga sebelumnya Rp24 ribu per kilogram, dan cabai rawit merah turun menjadi Rp24 ribu dari harga sebelumnya Rp26 ribu per kilogram.

"Harga cabai yang turun itu karena stok terus bertambah. Pasokan untuk kebutuhan warga ini didatangkan secara kontinyu, sehingga warga tidak perlu khawatir  kekurangan stok dan kenaikan harga," ujarnya.

Ia mengatakan, saat ini, stok cabai merah sebanyak lima ton dan diperkirakan akan terus bertambah seiring pasokan komoditas tersebut dari sentra produksi di Pulau Jawa dan Sumatera lancar.

"Sebanyak lima ton cabai merah tersebut tersebar di distributor Awi sebanyak tiga ton dan di distributor Suhadi dua ton," katanya.

Menurut dia, untuk mencukupi kebutuhan warga terhadap cabai itu distributor mengandalkan pasokan dari luar daerah karena hasil petani lokal belum dapat memenuhi kebutuhan warga selain itu untuk menjaga harga agar tidak melonjak tinggi.

"Sampai saat ini, ketetapan harga cabai masih berdasarkan hukum pasar, apabila permintaan meningkat maka harga akan naik, demikian juga sebaliknya ," ujarnya.

Untuk itu, kata dia, pihaknya mengharapkan pelaku usaha sembako ini terus meningkatkan pasokan, untuk mengantisipasi jika terjadi cuaca buruk di perairan.

"Sebagian besar kebutuhan ini dipasok menggunakan jasa angkutan kapal laut, karena biaya transportasi yang lebih murah dibanding menggunakan jasa pesawat udara," ujarnya.



Pewarta: Oleh Mulki
Editor : Aprionis

COPYRIGHT © ANTARA 2026