Indonesia menyatakan ingin membantu untuk meredakan ketegangan hubungan dagang antara Jepang dan Korea Selatan karena perselisihan dua negara raksasa Asia itu bisa berimbas negatif pada laju pertumbuhan ekonomi kawasan dan global.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita kepada Antara usai pertemuan bilateral dengan Menteri Perdagangan Korsel Yoo Myung-Hee di Bangkok, Thailand, Senin pagi, mengatakan Indonesia akan membantu semaksimal mungkin dengan memanfaatkan berbagai jalur komunikasi kepada Korsel dan Jepang, agar tensi sengketa dagang kedua negara itu bisa mereda.

"Di semua percakapan, bahwa kita akan jelaskan secara halus, tanpa kita masuk terlalu jauh ke permasalahan masing-masing negara. Kita ingatkan bahwa perang dagang bisa berdampak pada perekonomian secara keseluruhan dan tidak ada yang diuntungkan dengan hal itu," ujar Enggar usai pertemuan bilateral di sela Pertemuan Menteri Ekonomi Asean (Asean Economic Ministers' Meeting/AEM) ke-51 itu.

Enggar bertemu Myung-Hee sebelum rangkaian pertemuan konsultasi ASEAN dengan negara mitra dagang di hari keempat AEM ke-51.

Jepang dan Korsel merupakan dua negara yang memilki hubungan dagang dan investasi yang erat dengan Indonesia. Ketegangan hubungan ekonomi kedua negara tentu bisa berdampak pada mitra-mitra dagang dari kedua negara tersebut.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan (Kemendag), hingga akhir 2018, perdagangan Indonesia dengan Jepang maupun Korsel selalu tercatat surplus, masing-masing 1,4 miliar dolar AS dan 451 juta dolar AS. Namun untuk kurun Januari-Juni 2019, berdasarkan data Kemendag, Indonesia mengalami defisit perdagangan dari Korsel sebesar 441 juta dolar AS.

Di pertemuan bilateral itu, Enggar juga menyampaikan komitmen Presiden Joko Widodo untuk mempermudah investasi langsung ke Indonesia. Dalam hal ini Enggar mengatakan pemerintah memberikan perhatian khusus terhadap rencana keberlanjutan investasi dari dua industri raksasa asal Korsel yakni perusahaan kimia Lotte Group dan perusahaan otomotif Hyundai.

"Kami sampaikan kita memberikan perhatian terhadap rencana investasi dua industri besar itu. Jadi mereka tidak perlu khawatir," ujar dia.

Selanjutnya, dalam pertemuan bilateral itu, Enggar dan Myung-Hee juga menyatakan komitmennya untuk menuntaskan perundingan untuk perjanjian dagang kemitraan ekonomi komprehensif antara Indonesia dan Korea atau "Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IK-CEPA)"

"IK-CEPA kami tegaskan lagi untuk selesai pada tahun ini," ujar dia.

Perjanjian dagang IK-CEPA menjadi salah satu dari tiga perjanjian dagang yang ditargetkan Indonesia selesai di empat bulan terakhir di 2019. Dua perjanjian dagang lainnya adalah Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), dan Indonesia-Taiwan Preferential Trade Agreement (PTA).

Pewarta: Indra Arief Pribadi

Editor : Rustam Effendi


COPYRIGHT © ANTARA News Bangka Belitung 2019