"Rata-rata setiap petani memesan bibit lada minimal 2000 batang, sedangkan produksi bibit di BP3L masih terbatas dan tidak bisa memenuhi permintaan,"Pangkalpinang, 11/8 (Antara) - Badan Pengelola Pengembangan dan Pemasaran Lada (BP3L) Provinsi Bangka Belitung, mengungkapkan permintaan bibit lada di Bangka Belitung saat ini cukup tinggi seiring harga lada yang terus meningkat.
Kepala BP3L Provinsi Bangka Belitung, Zainal Arifin di Pangkalpinang, Senin mengatakan, permintaan bibit lada setiap bulannya cukup banyak mencapai ratusan ribu bibit.
"Rata-rata setiap petani memesan bibit lada minimal 2000 batang, sedangkan produksi bibit di BP3L masih terbatas dan tidak bisa memenuhi permintaan," ujarnya.
Ia mengatakan, kondisi produksi lada di Bangka Belitung sekarang ini sedang menurun, sehingga pihaknya terus menggiatkan perkebunan lada dalam rangka mengembalikan kejayaannya walaupun tidak bisa mengembalikannnya seperti dulu lagi.
"Kami hingga kini masih terus menggiatkan perkebunan lada untuk mengantispasi pasca timah. Hasil produksi lada diperkirakan tidak bisa meningkat dengan pesat karena lahan lada yang sudah banyak terpakai oleh sawit dan pertambangan. Kedua hal itu merupakan kendala untuk mengembalikan kejayaan lada seperti dulu," jelasnya.
Ia menilai, mengenai masalah setelah pasca timah, yang bisa diandalkan dan diharapkan adalah lada, karena harganya hingga kini terus meningkat dan permintaannya pun sangat tinggi, jauh dari hasil produksi kita saat ini.
"Permintaan lada setiap tahunnya cukup menjanjikan, sedangkan pemenuhan kebutuhan tidak bisa terpenuhi. Sedangkan untuk mengembalikan produksinya agak lamban karena hingga kini belum terlihat produksi yang signifikan," ungkapnya.
Dikatakannya, untuk produksi lada tahun 2013 hanya sekitar 6.000 ton dan tahun 2014 diperkirakan meningkat sekitar 7.500 ton. Untuk bisa meningkatkan produksi lada diharapkan adanya peran dari pemerintah daerah, karena saat ini adalah momen yang paling baik bagi pemerintah daerah untuk mengembalikan kejayaan lada setelah pasca timah.
"Hingga saat ini kami tidak tahu langkah-langkah kongkrit yang yang dilakukan pemerintah untuk mengembalikan kejayaan lada. Kami memang pernah mendengar adanya program bantuan bibit dari pemerintah, namun bentuk kongkrit implementasinya dilapangan hingga saat ini tidak terlihat," ujarnya.
Diakuinya, persediaan bibit di BP3L saat ini cukup banyak mencapai ratusan ribu bibit yang dijual dengan harga yang cukuo murah dari harga pasaran, dimana harga pasaran sekitar Rp9 ribu per bibit dan di BP3L hanya menjual dengan harga Rp6 ribu per bibit.
"Walaupun bibit yang dihasilkan BP3L cukup banyak, namun belum bisa memenuhi permintaan dari petani yang dikarenakan kondisi lahan untuk pembibitan yang semakin sedikit," katanya.
Pewarta: Pewarta: Try Mustika HardiEditor : Aprionis
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.