"Sampai saat ini kami belum mendapatkan informasi jumlah peserta yang akan hadir dalam ajang internasional tersebut
Muntok (Antara Babel) - Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung, menyediakan 200 kamar untuk peserta "Home Stay Fair" (HSF) atau pertemuan pelaku usaha rumah singgah tingkat Asia Tenggara yang rencananya akan digelar pada September 2015.

"Sampai saat ini kami belum mendapatkan informasi jumlah peserta yang akan hadir dalam ajang internasional tersebut, namun kami yakin jumlah kamar yang sudah ada cukup untuk menampung para peserta dari 10 negara Asean dan perwakilan seluruh provinsi se-Indonesia tersebut," kata Kepala Bidang Pariwisata Dinas Hubparbud dan Informatika Kabupaten Bangka Barat, Iswandi di Muntok, Selasa.

Ia mengatakan, pendataan terakhir pada Oktober 2014 sudah didapati sebanyak 174 kamar di 35 rumah singgah yang sudah siap dan jumlah tersebut terus meningkat dan diperkirakan saat ini jumlahnya sudah lebih dari 200 kamar yang dalam kategori siap dan layak.

Ia menerangkan, seluruh rumah singgah tersebut semuanya berada di Muntok dan cukup dekat dengan lokasi yang nantinya akan dijadikan pusat pertemuan para peserta.

"Rencana seluruh kegiatan akan dipusatkan di Lapangan Gelora dan salah satu gedung pertemuan di Unit Metalurgi Muntok, rumah singgah yang sudah siap sebagian besar berada di sekitar lokasi, seperti di Kelurahan Tanjung, Sungai Daeng dan Sungai Baru," katanya.

Sementara itu, Anggota DPRD Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung, Dafitri menilai, persiapan pemkab masih kurang dan dikhawatirkan para peserta nantinya tidak mendapatkan kesan mendalam saat berkunjung ke daerah itu.

"Kalau hanya menawarkan wisata sejarah, kami khawatir para peserta tidak akan berkesan, kami harapkan pemkab juga memikirkan untuk memberi peserta kesempatan untuk menyelami kehidupan sehari-hari masyarakat setempat," ujarnya.

Ia mencontohkan, seluruh peserta nantinya akan terpusat di Muntok, sementara warga di daerah itu sebagian besar adalah pelaku usaha jasa, perdagangan, pegawai negeri dan sudah semi modern, kondisi seperti itu tentunya tidak akan memberikan kesan istimewa bagi peserta karena kehidupan sosial yang ada hampir sama dengan daerah lain di Indonesia.

Menurut dia, peserta akan lebih berkesan jika peserta dikenalkan dengan kehidupan masyarakat nelayan, seperti di Desa Belolaut, Desa Tanjung Ular atau Desa Rambat yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Muntok.

"Berikan pengalaman para wisatawan dengan kehidupan masyarakat nelayan tradisional, ajak mereka mandi lumpur terjun langsung mencari ikan, udang, kerang dengan cara tradisional, tentu mereka akan terkesan dan bukan tidak mungkin suatu saat mereka akan kembali lagi," ucapnya.

Selain mencari hasil laut, lanjutnya, usaha pengolahan hasil laut seperti usaha pembuatan pempek udang, terasi, rusip, kerupuk, kempalang dan aneka kue serta kuliner khas lainnya diyakini akan memberikan pengalaman berbeda bagi para peserta.

"Untuk itu kami berharap usaha rumah singgah juga dikembangkan di desa-desa itu untuk memberikan alternatif wisata bagi para peserta, toh jaraknya tidak terlalu jauh dari pusat kegiatan dan bisa ditempuh kurang dari 30 menit," ujarnya.

Pewarta: Oleh: Donatus Dasapurna Putranta
Editor : Aprionis

COPYRIGHT © ANTARA 2026