"Dalam keyakinan kami orang yang sudah meninggal dunia tetap wajib untuk dihormati dengan cara ritual sembahyang kubur atau lazim disebut dengan Cheng Beng,"Sungailiat (Antara Babel) - Ribuan warga keturunan Tionghoa yang berasal dari berbagai daerah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan sejumlah daerah lain di Indonesia memadati pemakaman Kemujan di Sungailiat, Kabupaten Bangka untuk melaksanakan tradisi ritual tahunan Cheng Beng.
Menurut salah seorang pengunjung, Jerry, Minggu, tradisi Ceng Beng adalah kegiatan sembahyang kubur tahunan bagi warga keturunan Tionghoa sebagai bentuk rasa hormat mereka kepada keluarga yang sudah meninggal dunia.
"Dalam keyakinan kami orang yang sudah meninggal dunia tetap wajib untuk dihormati dengan cara ritual sembahyang kubur atau lazim disebut dengan Cheng Beng," katanya.
Dia mengatakan, kegiatan ritual Cheng Beng sudah turun temurun dilakukan oleh warga keturunan Tionghoa dan diharapkan sembahyang kubur tidak punah meski arus globalisasi semakin meningkat.
"Pada saat sembahyang kubur kami biasanya membawa makanan yang selama masa hidupnya disukai termasuk minuman tuak, kue cung, ketan dan lainnya," katanya.
Sementara menurut A Shui, dirinya sengaja datang dari Jakarta untuk melaksanakan sembahyang kubur guna menghormati arwah salah satu keluarganya yang meninggal dunia sekitar delapan tahun lalu.
"Saya pindah ke Jakarta sejak lima tahun lalu dan setiap tahun saya pulang ke Sungailiat untuk melaksanakan sembahyang kubur dan hari ini adalah hari puncak pelaksanaan ritual Cheng Beng," katanya.
Menurut dia, sejak pagi pukul 04.00 WIB dirinya bersama dengan tiga saudaranya sudah datang ke pemakaman Kemujan untuk melakukan ritual Cheng Beng dengan membawa sejumlah bekal untuk sesaji seperti makanan, buah-buahan dan minuman mineral, hio dan lilin merah untuk dibakar.
Pewarta: KasmonoEditor : Mulki
COPYRIGHT © ANTARA 2026