"Kami meminta pemerintah daerah melalui dinas terkait untuk mengawasi peredaran beras oplosan yang merugikan konsumen,"
Pangkalpinang (Antara Babel) - Beberapa distributor beras di Kota Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung, meminta pemerintah daerah mengawasi peredaran beras agar masyarakat tidak dirugikan praktik pengecer yang mengoplos, terutama selama bulan puasa hingga Idul Fitri 1434 H.


"Kami meminta pemerintah daerah melalui dinas terkait untuk mengawasi peredaran beras oplosan yang merugikan konsumen," ujar Ahong, distributor beras di Pangkalpinang, Minggu.


Ia menjelaskan, pengoplosan beras atau beras jenis premium dicampur beras jenis medium akan marak beredar di pasaran seiring naiknya harga beras sebagai dampak meningkatkannya permintaan dan harga beras di Babel.

"Saat ini, beras oplosan sering ditemukan beredar di tingkat penjualan beras eceran dan pengoplosan beras diduga dilakukan para pedagang beras eceran nakal untuk mendapatkan keuntungan besar," ujarnya.


Untuk itu, kata dia, diminta pemerintah kabupaten/kota melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi melakukan sidak terhadap kualitas beras di pasaran, apabila menemukan beras oplosan diharapkan pemda untuk mengambil tindakan tegas sesuai hukum berlaku agar pelaku pengoplosan beras jera.


"Kami juga melakukan pengawasan dan hanya sebatas memberikan informasi ke aparat pemerintah apabila menemukan peredaran beras yang merugikan konsumen," ujarnya.


Menurut dia, ciri-ciri beras oplosan diantara kemasan beras rusak atau jahitan kemasan tidak sesuai dengan jahitan pabrik yangn rapi, warna beras atau bentuk butiran beras dalam satu kemasan berbeda.


"Warna beras jenis premium lebih putih dan bersih dibandingkan beras jenis medium yang agak kekuning-kuningan dan keputihannya pudar atau pucat serta butiran beras medium banyak yang patah sehingga apabila dicampur dengan beras premium cukup mencolok," ujarnya.


Ia berharap, masyarakat sebelum membeli beras untuk memperhatikan kondisi fisik beras agar tidak tertipu dengan aksi curang pedagang nakal tersebut.


"Kami berharap masyarakat membeli beras ke pedagang beras yang sudah menjadi langganan tetap yang sudah dipercaya," ujarnya.


Ia menjelaskan, persediaan beras di tingkat distributor menjelang Lebaran masih cukup seiring pasokan beras dari Jawa dan Sumatera lancar.


"Saat ini, stok beras mencapai 15 ton dan cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga hari H lebaran dan untuk mengantisipasi kekurangan stok, dua kali dalam seminggu para distributor terus menambah pasokan beras dari luar provinsi," ujarnya.


Demikian juga, Acun, distributor beras lainnya, mengatakan, pemerintah daerah harus meningkatkan pengawasan untuk mencegah peredaran beras oplosan yang merugikan para distributor dan masyarakat.


"Apabila ditemukan peredaran beras oplosan, tentu pandangan masyarakat yang melakukan pengoplosan pihak distributor padahal pengoplosan beras dilakukan di tingkat pedagang eceran," ujarnya.


Pewarta: pewarta: aprionis
Uploader : Rustam Effendi

COPYRIGHT © ANTARA 2026