Sebuah kastil kokoh di puncak Bukit Menumbing, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, dibangun "Banka Tin Winning" pada 1927-1930, sebagai tempat peristirahatan para pejabat Belanda.

Di puncak bukit berketinggian 445 meter di atas permukaan laut tersebut, para pejabat Belanda biasa menghabiskan akhir pekan dengan keluarga dan kerabat, sambil menikmati suasana alam yang cukup menyegarkan sekaligus memandangi keindahan Kota Muntok dari sisi atas.

Pada masa perjuangan kemerdekaan RI, lokasi yang dahulunya sebagai menara pandang dan tempat rekreasi diubah menjadi lokasi pengasingan para pemimpin Republik, antara lain Moh Hatta, Ali Sastroamidjojo, Comodor Soerjadi Soerja Darma, Moh Roem, A.G. Pringgodigdo dan Mr. Asa'at.

Bahkan, di salah satu bangunan induk di kompleks tersebut sempat dibangun ruang khusus berbentuk sel lengkap dengan kawat besi untuk mengekang gerak para pejuang kemerdekaan RI selama menjalani pengasingan.

Tak lama setelah kedatangan enam orang pimpinan Republik tersebut, tepatnya pada 6 Februari 1949, Belanda kembali mengirim tokoh nasional lain yang terdiri dari Presiden Soekarno dan Menteri Luar Negeri H. Agus Salim ke ujung barat Pulau Bangka.

Setibanya di Muntok, dengan alasan kastil Menumbing terlalu dingin, Soekarno enggan menempati bangunan tersebut dan dipindahkan Belanda ke Pesanggrahan Muntok, sebuah bangunan yang dahulunya sebagai tempat istirahat para pegawai Belanda yang didirikan "Banka Tin Winning" pada 1827.

Di Pesanggrahan Muntok atau yang lebih dikenal dengan sebutan Wisma Ranggam, Soekarno merasa lebih nyaman karena suhu udara lebih hangat dibandingkan dengan di Pesanggrahan Menumbing dan lokasinya berada di tengah kota sehingga memudahkannya untuk lebih dekat dengan masyarakat.

Selain sebagai lokasi pengasingan Soekarno, di bangunan itu juga tercatat peristiwa sejarah kemerdekaan Republik Indonesia, yaitu peristiwa serah terima surat kuasa kembalinya Pemerintahan RI ke Yogyakarta dari Soekarno kepada Sri Sultan Hamengkubuwono IX pada Juni 1949.

Para pemimpin Republik diasingkan di Muntok cukup lama dan meninggalkan banyak goresan peristiwa, sebelum kembali ke Yogyakarta pada 6 Juli 1949.

Berkumpulnya para pejuang kemerdekaan RI di Muntok, menurut Nanang R. Hidayat, pemilik Rumah Garuda Yogyakarta saat datang ke Pesanggrahan Menumbing beberapa hari lalu, merupakan peristiwa penting yang sengaja difasilitasi Belanda.

"Mereka dibawa ke Muntok bukan diasingkan, namun dikumpulkan di lokasi terpencil, jauh dari pantauan Belanda untuk berembuk dan bermusyawarah dalam proses penegasan kemerdekaan RI," katanya.

Guyonan serius Nanang Garuda ada benarnya karena tak lama setelah para pemimpin negeri berkumpul di Muntok, terjadilah pertemuan antara perwakilan Republik Indonesia dengan Pemerintah Belanda dalam Perundingan Roem-Roijen yang berhasil memaksa Belanda mengakui kemerdekaan Republik Indonesia.

Besarnya semangat para pemimpin Republik di Muntok dalam menyusun strategi perjuangan diplomasi untuk kemerdekaan RI, saat ini coba dikumpulkan pemerintah daerah setempat sebagai kekuatan untuk membangun sektor pariwisata daerah.

Penetapan Muntok sebagai salah satu kota pusaka di Indonesia menegaskan kota kecil yang berada di ujung barat Pulau Bangka tersebut memiliki segudang sejarah dan dapat dibuktikan melalui banyaknya bangunan peninggalan bernilai sejarah.

Dalam setiap kesempatan, para pejabat pemimpin daerah selalu mengumandangkan potensi sejarah Muntok dibumbui taburan pemanis berupa potensi budaya masyarakat setempat yang diharapkan mampu menarik orang atau wisatawan datang ke daerah itu.

Angin segar pembangunan pariwisata daerah itu pertama kali diembuskan Kementerian Pariwisata melalui kegiatan "Home Stay Fair 2015" yang digelar selama tiga hari dengan mengundang sekitar 200 tamu dari berbagai daerah di Indonesia dan beberapa perwakilan negara Asia Tenggara.

Acara yang melibatkan ratusan panitia tersebut dalam pelaksanaannya berjalan cukup baik, namun karena padatnya jadwal yang harus dilaksanakan para peserta berdampak pada minimnya kesempatan menikmati suasana Muntok sekaligus bersosialisasi dengan warga setempat.

Kegiatan yang digadang menjadi langkah awal kebangkitan pariwisata di Bangka Barat, khususnya Muntok tersebut, mendapatkan tanggapan pro-kontra dari masyarakat.

Sekitar satu tahun setelah acara yang menghabiskan anggaran milyaran rupiah tersebut, sebuah komunitas sepeda lipat lokal di bawah komando Budi Susatyo menggelar kegiatan skala nasional berupa Jambore Sepeda Lipat Nasional (Jamselinas) VI melibatkan lebih dari 200 orang penggowes dari berbagai daerah di Indonesia.

Berkat kegigihan belasan panitia yang notabene "modal dengkul" alias minim anggaran berbuah manis, kegiatan berjalan sukses, meriah dan mendapat sambutan hangat dari masyarakat setempat, meskipun masih saja ada pihak-pihak yang mencibir dan merasa tidak senang.

"Acara ini murni kegiatan komunitas pesepeda lipat," kata Budi Susatyo.

Meskipun minim dukungan pemerintah, komunitas pesepeda lipat itu berhasil menggelar sebuah kegiatan sekaligus mempromosikan berbagai potensi wisata yang ada di Muntok.

"Goweser" dari berbagai daerah, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Palembang, Makasar, dan beberapa daerah di Babel pun, merasa terpuaskan serta memberikan apresiasi positif kepada panitia dan warga Muntok.

Sekitar dua minggu setelah pelaksanaan kegiatan, status di media sosial milik para peserta masih cukup hangat membahas acara yang dilaksanakan selama tiga hari itu, berbagai pengalaman baru mereka dapatkan dari acara tersebut.

Promosi wisata dengan melibatkan kelompok masyarakat atau komunitas terbukti efektif memopulerkan potensi yang dimiliki suatu daerah.

Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari kesiapan masyarakat setempat dalam memberikan pelayanan dan menerima kedatangan wisatawan ke daerah itu.

Mereka yang bisa merasakan manfaat dari geliat pariwisata daerah tersebut, saat ini menunggu ketanggapan dan gerak nyata pemerintah bersama wakil rakyat setempat dalam merespons dua contoh kegiatan tersebut, yang kemudian bisa menindaklanjutinya dengan menelurkan berbagai kebijakan prorakyat.

Jamselinas yang baru pertama kali digelar di luar Pulau Jawa memberikan sebuah sentilan dari kelompok kecil masyarakat yang seharusnya memberikan pelajaran berharga bagi pengambil kebijakan di daerah itu jika ingin lebih serius membangun pariwisata.

Masyarakat masih menanti tuah atau keuntungan dari para pendiri Republik saat "dikumpulkan" Belanda di Muntok yang diharapkan menginspirasi tuan puan pengambil kebijakan di "Negeri Sejiran Setason" itu, untuk bersama-sama memerdekakan masyarakatnya dari keterpurukan ekonomi pascatimah.


Pewarta: Donatus Dasapurna Putranta
Editor : Mulki

COPYRIGHT © ANTARA 2026