Mentok, Babel (ANTARA) - Khatib Shalat Id di Masjid Baitul Muttaqin Paitjaya, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengatakan Idul Fitri merupakan momentum berbagi kebahagiaan kepada sesama.
"Takbir, tahmid, dan tahlil berkumandang di berbagai penjuru dunia menandai kembalinya fitrah umat Islam, Ini momentum kemenangan yang membahagiakan," kata Ketua Ittihad Persaudaraan Imam Masjid Kabupaten Bangka Barat Agus Sunawan di Mentok, Senin.
Dalam tradisi bangsa Indonesia, Hari Raya Idul Fitri dikenal dengan lebaran, dan para ahli bahasa menyebut kata lebaran salah satunya berasal dari bahasa Jawa yakni "lebar" yang memiliki arti selesai.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata lebaran dimaknai sebagai hari raya umat Islam yang jatuh pada 1 Syawal setelah selesai menjalankan ibadah puasa Ramadhan.
"Makna ini selaras dengan kenyataan, bahwa pada hari lebaran kita sudah selesai menjalankan kewajiban berpuasa dan mewujudkannya dalam bentuk perayaan kebahagiaan sebagai wujud syukur kepada Allah SWT," katanya.
Rasa sukacita ini tentu sangat kurang lengkap jika dirayakan sendiri, kebahagiaan semakin terasa nikmat jika bisa dirayakan dengan berkumpul bersama orang-orang tercinta.
"Hal inilah yang memunculkan sebuah tradisi ritual di negara kita, yakni mudik," ujarnya.
Menurut dia, tradisi mudik merupakan tradisi luhur karena berisi kerinduan di tanah rantau untuk pulang melihat kembali tanah kelahiran, kembali berkumpul dengan keluarga, mengingat kembali masa kecil sekaligus bersimpuh sungkem dalam pelukan kedua orang tua.
"Jadi mudik tidak hanya memiliki dimensi makna sekadar pulang kampung, namun di dalamnya terkandung dimensi spiritual yang nilainya tidak bisa diukur dengan materi duniawi," katanya.
Dalam tradisi mudik ini, kata dia, perantau harus melakukan perjalanan penuh perjuangan dengan jarak ratusan kilometer, melintasi laut atau udara, menyeberangi sungai dengan medan yang terjal dan jalan berliku, dengan waktu tempuh berjam-jam, bahkan bisa berhari-hari.
Perjalanan mudik membutuhkan persiapan tenaga dan pikiran sehat, dan yang tidak kalah penting adalah besarnya biaya yang harus dikeluarkan, yang dikumpulkan beberapa bulan, bahkan bisa jadi setahun.
"Mudik merupakan peristiwa bertemu langsung dengan keluarga dan kerabat di kampung halaman, momentum berkualitas ini tidak bisa digantikan teknologi canggih seperti telepon, media sosial, maupun panggilan video," katanya.
Berbagai fasilitas di tanah rantau tidak bisa menghalangi pulang kampung menuju ibu pertiwi walaupun berada di tengah laut, di tengah hutan dan bahkan di pucuk gunung yang tinggi sekalipun.
"Kerinduan kepada tanah kelahiran seperti ini juga pernah dirasakan Nabi Muhammad SAW seperti yang tersebut dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Tirmidzi; Berkata Rasulullah SAW, "Alangkah indahnya dirimu (Makkah). Engkaulah yang paling kucintai. Seandainya saja dulu penduduk Mekah tidak mengusirku, pasti aku masih tinggal di sini" (HR al-Tirmidzi)," katanya.
Jika direnungkan lebih dalam, hakikat mudik adalah kembali ke pangkuan orang tua, sosok paling berjasa yang telah melahirkan kita, sosok yang telah menjadi pahlawan kesuksesan.
"Mereka adalah jimat keramat sakral bagi kita di dunia ini," katanya.
Untuk itu dia mengajak masyarakat memanfaatkan Idul Fitri dan mudik lebaran kali ini menjadi momentum tepat untuk bersimpuh kepada kedua orang tua atas segala khilaf dan kesalahan.
"Mari kita tancapkan dalam hati kita untuk tidak lagi menyakiti hati dan fisik mereka. Demi Allah, demi Rasulullah, sebanyak apapun yang pernah kita berikan, apa pun yang pernah kita serahkan kepada orang tua, tidak akan pernah setimpal dengan perjuangan dan pengorbanan, kasih sayang dan doanya yang selalu menyertai dan mengantarkan kita hingga menjadi sampai saat ini," katanya.