Aksi damai ini bertujuan untuk menyadarkan sesama umat Islam di Indonesia bahwa saudara kita kaum muslim di Aleppo, Suriah mendapat serangan koalisi rezim Negara Suriah Rusia dan Iran...Pangkalpinang (Antara Babel) - Gerakan Mahasiswa (Gema) Provinsi Kepulauan Babel menggelar aksi damai bertajuk selamatkan Aleppo dan stop bunuh umat muslim sebagai solidaritas antar sesama muslim.
"Aksi damai ini bertujuan untuk menyadarkan sesama umat Islam di Indonesia bahwa saudara kita kaum muslim di Aleppo, Suriah mendapat serangan koalisi rezim Negara Suriah Rusia dan Iran. Semoga masyarakat Babel peduli hal tersebut," ujar Ketua Gema Provinsi Babel, Qodrul Kholiq di Pangkalpinang, Minggu.
Ia menjelaskan bahwa yang terjadi di negara Islam, Aleppo membuktikan umat Islam di seluruh dunia menantikan kehadiran kembali Khilafah Rasyidah yang akan menyatukan umat Islam dengan persatuan yang hakiki.
"Masyarakat berharap dengan adanya Khilafah Rasyidah dapat membebaskan negeri-negeri muslim dan melindungi warganya, termasuk di Suriah," katanya.
Ia menjelaskan, akibat dari pembantaian tersebut puluhan ribu laki-laki, perempuan dan anak-anak muslim di Kota Aleppo terancam dibunuh.
"Pengamat Suriah mengatakan lebih dari 50.000 orang dari sekitar seperempat juta penduduk kota itu telah mengungsi akibat serangan menggunakan senjata berat dan bom serta senjata canggih yang pernah dikembangkan manusia terhadap wilayah Aleppo Timur yang dikuasai para pejuang," katanya.
Pada aksi tersebut Gema menyatakan mengutuk keras tindakan rezim Bashar Assad dan sekutunya, rezim Putin yang tanpa belas kasihan terus melakukan pembantaian.
"Kami juga mengecam sikap para penguasa negeri-negeri muslim yang tak segera bertindak melihat warga muslim Aleppo diperlakukan secara semena-mena oleh penguasa jahat," ujarnya.
Aksi yang berlangsung hingga beberapa jam tersebut diikuti oleh 20 dan dilaksanakan di Alun-alun Taman Merdeka Kota Pangkalpinang tanggal 18 Desember 2016.
Pewarta: MahendraEditor : Mulki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.