Bangka Barat, Babel (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung membantu pelestarian Tradisi Putieng-Putieng yang dilaksanakan rutin warga Desa Ketap di akhir bulan Ramadhan.
"Tradisi ini masih terus dipertahankan warga menyambut datangnya Idul Fitri. Kebiasaan warga ini sudah berjalan sekitar 60 tahun dan hingga kini masih dilestarikan," kata Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangka Barat Muhammad Ferhad Irvan di Mentok, Rabu.
Menurut dia, Tradisi Putieng-Putieng memiliki makna berbagi kebahagiaan, khususnya kepada anak-anak di akhir bulan Ramadhan atau menjelang Idul Fitri.
Ia menjelaskan, pada awalnya setiap akhir Ramadhan biasanya warga setempat menyiapkan berbagai hidangan yang akan disajikan kepada para tamu atau sanak-saudara yang berkunjung ke rumah pada saat Lebaran Idul Fitri.
Dalam proses persiapan itu ada beberapa makanan yang dirasa kurang layak atau tidak utuh lagi untuk disajikan kepada tamu. Makanan itu dikumpulkan untuk kemudian dibagikan kepada anak-anak
"Dalam tradisi ini, anak-anak berkeliling ke rumah-rumah warga untuk mendapatkan makanan tersebut, untuk dinikmati setelah berbuka puasa dan shalat Maghrib," ujarnya.
Ratusan anak-anak Desa Ketap antusias penuh keceriaan usai berbuka puasa dan shalat Maghrib berbondong-bondong berjalan kaki datang ke rumah-rumah warga membawa kantong plastik sebagai wadah makanan pemberian warga.
Pintu rumah warga terbuka sebagai penanda siap membagikan sedekah kepada anak-anak yang datang membawa wadah.
Pada perkembangannya, kata dia, ada beberapa warga yang sengaja memberikan makanan yang bukan dari makanan sajian yang tidak utuh, tetapi berupa makanan ringan kemasan.
Sebagai upaya pelestarian sekaligus pengembangan objek kebudayaan daerah, tahun lalu Tradisi Putieng-Putieng juga dilaksanakan dengan dukungan penuh dari Pemerintah Desa Ketap. Di Kantor Desa dilakukan seremonial Tradisi Putieng-putieng yang diawali tausiyah, berbuka bersama, shalat berjamaah, dan ditutup dengan pembagian bingkisan kepada seluruh anak-anak yang hadir dalam acara tersebut.
Tradisi Putieng-Putieng diyakini sudah berjalan sekitar 60 tahun, setiap tahun dilaksanakan di malam ke-25 dan 27 pada bulan Ramadhan.
"Makna dari kegiatan ini adalah bersedekah, mengajak masyarakat bersedekah kepada anak-anak sehingga bulan Ramadhan semakin menggembirakan," katanya.
Selain versi berbagi makanan sajian Lebaran, kata dia, ada juga versi lain dari Tradisi Putieng-Putieng, yaitu berbagi makan berbuka puasa kepada orang yang datang ke rumah warga agar orang tersebut ikut merasakan makanan yang sama dengan yang dimakan anggota keluarga.
Pewarta: Donatus Dasapurna PutrantaUploader : Bima Agustian
COPYRIGHT © ANTARA 2026