Pangkalpinang (ANTARA) - Kepala Perum LKBN ANTARA Biro Bangka Belitung (Babel), Feny Aprianti menjadi narasumber dalam pelatihan penulisan publikasi lingkungan dan teknik rehabilitasi mengrove yang digelar oleh Kelompok Kerja Mangrove Daerah (KKMD) Bangka Belitung (Babel).

"Tidak semua informasi layak diberitakan dan berita yang dibuat dengan kita datang langsung ke lapangan dan dari rilis yang kita terima itu berbeda," kata Feny mengawali paparan materi yang disampaikan dalam pelatihan tersebut, Kamis.

Dalam kegiatan ini Feny mengisi materi dengan judul "Pelatihan Jurnalistik Lingkungan" sekaligus menjelaskan LKBN ANTARA menjadi media rujukan karena bahasanya yang dikenal "pakem". 

Ada bahasa dan kosakata tersendiri seperti penggunaan serapan-serapan bahasa asing, gawai dan daring, mengacu pada KBBI Kemendikdasmen RI. 

Pedoman berbahasa Indonesia jurnalistik juga harus berimbang dan objektif, meski ini berat karena jurnalis pasti punya pandangan sendiri, namun seorang jurnalis harus tetap membuat berita dengan tidak memasukkan opini.

"Kita harus mengacu pada KBBI Kemendikdasmen RI untuk mengolah naskah atau data agar mudah dipahami. Di dalam LKBN ANTARA, teras dan judul itu sama maksimal 35 kata," ujarnya.

Feny juga menekankan untuk sebuah data, kita harus mengacu dan mengambil data dari Kementrian atau Lembaga terkait, tidak bisa hanya menggunakan data dari komunitas karena kita harus mempertanggungjawabkannya.

Pengumpulan data itu harus secara abstrak seperti luas lahan mangrove yang dijadikan tambak udang, itu harus punya data yang benar-benar kredibel dan berita ekonomi ANTARA menggunakan acuan dari Badan Pusat Statistik (BPS).

"Saya juga selalu menekankan sebagai wartawan kita harus rajin membaca untuk menambah pengetahuan lainnya karena sangat mudah untuk menilai sebuah naskah itu original atau plagiat, cukup copy paste ke Google saja langsung kelihatan pembuat naskah berfikir atau tidak," tutupnya.

 



Pewarta: Elza Elvia
Uploader : Bima Agustian

COPYRIGHT © ANTARA 2026