Jakarta (Antara Babel) - Salah satu yang mengemuka dari kasus korupsi KTP elektronik alias e-KTP adalah "pesan-pesan" dari tokoh-tokoh yang dianggap terkait kasus itu. Mereka adalah Anas Urbaningrum dan Setya Novanto.
"Boleh jadi sebetulnya masih terus melakukan hal yang sebelumnya dilakukan tapi dengan model lain. Mohon maaf, poin saya adalah agar bagaimana kita harus lurus, jujur, jernih, objektif supaya tidak secara tidak sadar kemasukan, kesurupan kepentingan lain tanpa disadari," kata dia.
Dia katakan pesan lain, bahwa penegakan hukum penting tapi prosesnya tidak semata-mata otomatis yang penting mendapat tersangka tapi harus ada idealisme.
"Kalau pragmatis itu yang penting dapat, kalau idealisme kebenaran tidak samar, kebenaran itu tidak boleh samar jadi itu substansi keadilan," katanya. Dia juga menyinggung peran Nazaruddin.
Sedangkan Novanto yang ketua DPR, hanya mengaku ia menyampaikan kebenaran meski membantah semua peran dan uang yang disebut di dalam dakwaan ia terima.
"Kami berikan apresiasi dan mudah-mudahan pemberitaan terhadap saya sungguh luar biasa sehingga keluarga kami, dan saya selaku ketua DPR dan ketua Partai mendapat pemberitaan, apa yang saya sampaikan adalah kebenaran yang mulia," kata dia.
Menanggapi "pesan-pesan itu, ketua majelis hakim, John Butarbutar, berujar, "Saya tidak tahu kebenaran itu tapi saya sependapat penegakan hukum harus dilakukan secara baik, tidak seperti penjahat untuk tangkap penjahat. Kecermatan dan kejelian jadi andalan kami di persidangan."
Dalam sidang Senin lalu (3/4), mantan Bendahara Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin, mengatakan, saat Urbaningrum ingin maju menjadi ketua umum DPP Partai Demokrat, pengusaha yang terlibat dalam pengadaan KTP elektronik menyerahkan Rp20 miliar kepada Urbaningrum untuk dibagi-bagikan sebagai persiapan pemenangan.