Moskow (ANTARA) - Pemerintah Inggris siap mengerahkan kapal perang, kapal penyapu ranjau tanpa awak, dan jet tempur sebagai bagian dari misi untuk memastikan kelancaran pelayaran di Selat Hormuz, menurut keterangan Kementerian Pertahanan Inggris.

Kementerian itu pada Selasa (12/5) menyatakan Inggris dan Prancis bersama-sama menjadi tuan rumah pertemuan para menteri pertahanan (menhan) dari sedikitnya 40 negara untuk membahas misi pembukaan kembali jalur air tersebut.

"Inggris akan mengerahkan peralatan pemburu ranjau otonom dan sistem anti-drone canggih, bersama dengan jet Typhoon dan HMS Dragon, sebagai bagian dari misi pertahanan masa depan untuk mengamankan kebebasan navigasi di Selat Hormuz," kata Kemhan Inggris.

Pemerintah Inggris juga mengumumkan alokasi anggaran sebesar 115 juta pound sterling (sekitar Rp2,7 triliun) untuk pengadaan peralatan pesawat nirawak.

Secara spesifik, pendanaan itu mencakup pengerahan kapal nirawak Kraken di bawah sistem modular Beehive.

Di satu sisi, Inggris sedang memodernisasi kapal RFA Lyme Bay agar dapat berfungsi sebagai platform peluncuran drone (kapal induk nirawak).

Di sisi lain, kapal perusak HMS Dragon, yang telah dilengkapi dengan sistem anti-drone mutakhir, dilaporkan telah bertolak ke Timur Tengah pada pekan lalu guna memperkuat pertahanan di kawasan tersebut.

Eskalasi konflik di sekitar Iran telah menyebabkan blokade efektif terhadap Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama untuk pasokan minyak dan gas alam cair global dari Teluk Persia. Hal itu juga berpengaruh terhadap ekspor dan tingkat produksi minyak.

Blokade tersebut menyebabkan kenaikan harga bahan bakar dan produk industri di sebagian besar negara di dunia.

Sumber: Sputnik/RIA Novosti



Pewarta: Yoanita Hastryka Djohan
Uploader : Bima Agustian

COPYRIGHT © ANTARA 2026