Pangkalpinang (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menyebutkan kelompok makanan, minuman dan tembakau memicu inflasi year on year (y-o-n) Babel pada Mei 2026 sebesar 2,46 persen, atau indeks harga konsumen (IHK) naik 107,67 dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya 105,09.

"Pada Mei tahun ini, Kepulauan Babel secara month to month juga mengalami inflasi 0,06 persen, karena adanya momen Hari Raya Idul Adha," kata Kepala BPS Kepulauan Babel, Sugeng Arianto di Pangkalpinang, Selasa.

Ia mengatakan inflasi y-on-y Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada Mei 2026 terjadi karena adanya kenaikan harga beberapa kelompok pengeluaran, yaitu kelompok makanan, minuman dan tembakau 5,02 persen, pakaian dan alas kaki 1,61 persen.

Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga naik 1,04 persen, perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga 0,12 persen, kesehatan 1,18 persen, transportasi 2,77 persen, informasi, komunikasi dan jasa keuangan 0,66 persen.

Selanjutnya kelompok rekreasi, olahraga dan budaya naik 0,76 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 1,10 persen, dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya naik 6,65 persen. Sementara kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks atau mengalami deflasi yaitu kelompok pendidikan 16,62 persen.

Ia menyatakan komoditas yang dominan memberikan sumbangan terhadap inflasi y-on-y, antara lain emas perhiasan, cumi-cumi, angkutan udara, daging ayam ras, beras, sawi hijau, udang basah, cabai rawit, bahan bakar rumah tangga, sigaret kretek mesin (SKM), ikan kerisi, bawang merah, cabai merah, bayam, kacang panjang, jeruk, ikan tenggiri, sigaret kretek tangan (SKT), kangkung dan sepeda motor.

"Komoditas yang dominan memberikan andil deflasi y-on-y yaitu sekolah menengah atas, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, bawang putih, kentang, kelapa, sabun detergen bubuk, tauge, makanan ringan, pengharum cucian, mi kering instan, detergen cair, sabun cair, popok bayi sekali pakai, pewangi pakaian, hand body lotion, kerang dan krim wajah," katanya.

Sementara itu, komoditas yang dominan memberikan andil terhadap inflasi m-to-m, antara lain cabai merah, angkutan udara, bawang merah, bahan bakar rumah tangga, sawi hijau, baju Muslim wanita, oli mesin, beras, bayam, kopi bubuk, semangka, minyak goreng, celana pendek pria, telepon seluler, kangkung, tempe, tomat, semen dan solar.

"Komoditas yang dominan memberikan sumbangan terhadap deflasi m-to-m, yaitu daging ayam ras, cumi-cumi, udang basah, ikan selar, ikan kembung,
emas perhiasan, ikan bulat, cabai rawit, bawang putih, ikan ekor kuning, ikan tenggiri, ikan seminyak, ikan manyung, telur ayam ras, ikan singkur dan ikan katamba," katanya.



Pewarta: Aprionis
Uploader : Bima Agustian

COPYRIGHT © ANTARA 2026