Belitung (ANTARA) - Badan Pusat Statistik RI mensosialisasikan pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) kepada masyarakat dalam kegiatan Malam Final Pemilihan Bujang Dayang Kabupaten Belitung 2026 di Pantai Tanjungpendam, Jumat (26/6) malam.
Kegiatan strategis tersebut dihadiri langsung oleh Kepala Biro Perencanaan dan Kerja Sama BPS RI Martin Wibisono yang mewakili Sekretaris Utama BPS, Kepala Biro Keuangan dan Barang Milik Negara BPS RI Darusman, serta Kepala BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Sugeng Arianto.
Turut hadir pula Kepala BPS Kabupaten Belitung Baiq Kurniawati, Bupati Belitung Djoni Alamsyah Hidayat, Wakil Bupati Syamsir, Sekretaris Daerah Marzuki, Ketua DPRD Belitung Vina Cristyn Ferani beserta unsur Forkopimda, kepala organisasi perangkat daerah (OPD), jajaran internal BPS, serta perwakilan petugas Sensus Ekonomi 2026.
Kepala Biro Perencanaan dan Kerja Sama BPS RI, Martin Wibisono menyampaikan bahwa Sensus Ekonomi merupakan agenda nasional yang diselenggarakan BPS setiap 10 tahun sekali, tepatnya pada tahun yang berakhiran angka enam.
Pelaksanaan pada tahun ini menjadi sensus ekonomi yang kelima sejak pertama kali digelar oleh pemerintah.
Ia menekankan bahwa pelaksanaan SE2026 kali ini memiliki urgensi yang jauh lebih krusial.
Hal tersebut disebabkan oleh aktivitas ekonomi masyarakat yang telah mengalami pergeseran dan perubahan signifikan, terutama dipicu oleh pesatnya perkembangan ekonomi digital serta pemanfaatan berbagai platform digital dalam menjalankan usaha.
"Sensus Ekonomi 2026 bukan sekadar sensus, tetapi fondasi kebijakan ekonomi Indonesia untuk lima hingga sepuluh tahun ke depan. Perubahan ini harus diukur secara akurat dan komprehensif sebagai dasar kebijakan strategis," kata Martin.
Martin memaparkan, berdasarkan potret lanskap perekonomian di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, sektor Usaha Mikro dan Kecil (UMK) terpantau masih mendominasi kegiatan roda usaha daerah secara masif.
Pada sensus periode sebelumnya, BPS mencatat sebanyak 124.721 unit UMK dan 1.590 unit usaha menengah besar (UMB) beroperasi di wilayah tersebut.
Sementara itu, pada tahun 2026, jumlah tersebut melonjak signifikan menjadi 241.359 unit UMK dan 2.388 unit UMB.
Menurut Martin, peningkatan angka tersebut merefleksikan adanya transformasi ekonomi di Bangka Belitung menuju sektor-sektor yang memiliki nilai tambah tinggi (value-added), namun dengan tetap mampu menjaga ketahanan pada sektor primer.
Di sisi lain, struktur ekonomi daerah dinilai semakin terdiversifikasi serta adaptif terhadap perkembangan teknologi di era digital.
Hasil dari SE 2026 dipastikan akan menjadi basis rujukan utama bagi pemerintah dalam merumuskan segala kebijakan yang lebih tepat sasaran bagi dunia usaha.
Data komprehensif tersebut juga akan diintegrasikan untuk menyusun program pembinaan, pelatihan, penyaluran bantuan pelaku usaha, hingga menjadi acuan valid bagi investor dan pemerintah dalam memetakan potensi ekonomi di setiap wilayah Indonesia.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berpartisipasi aktif menyukseskan SE2026 melalui gerakan kampanye "TIR", yaitu Terima petugas SE 2026, Isi data dengan benar, dan Rahasia data pasti terjaga.
"Partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan Sensus Ekonomi 2026. Semakin lengkap dan akurat data yang diberikan, maka semakin baik pula kualitas kebijakan yang dapat disusun pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional maupun daerah," ujar Martin Wibisono.
Pewarta: ApriliansyahUploader : Bima Agustian
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.