Tradisi minum teh di Pulau Bangka diperkirakan sudah ada sejak sekitar tahun 1800, seiring meningkatnya jumlah kuli tambang timah Tionghoa yang datang ke daerah itu.

Para pekerja tambang bijih timah yang didatangkan langsung dari Negeri Tiongkok pada zaman itu membawa bibit tanaman untuk dibudidayakan di tanah perantauan.

Mereka meyakini mengonsumsi minuman dari daun teh bermanfaat untuk kesehatan, meningkatkan daya tahan tubuh dan herbal tradisional.

Bukti sejarah berkembangnya tradisi minum teh di Pulau Bangka hingga saat ini masih bisa dilihat di Kampung Tayu, Kabupaten Bangka Barat yang hingga saat ini tanaman warisan tersebut masih terjaga dengan baik.

Meskipun jumlahnya terbatas, namun karena pada awalnya tanaman tersebut banyak tumbuh di Kampung Tayu, maka hingga saat ini lebih dikenal dengan sebutan Teh Tayu.

Penamaan tersebut menyesuaikan dengan tempat mereka tinggal dan menanam teh, yaitu Desa Tayu atau dalam bahasa Cina Hakka disebut juga Thai Djiu.

Menurut pegiat sejarah lokal, Suwito Wu, para pekerja tambang pada saat itu menikmati ritual minum teh pada saat senggang untuk menjaga stamina tubuh karena teh diyakini sebagai antioksidan yang sangat bermanfaat untuk kesehatan.

Berdasarkan hasil penelitian, minuman teh pucuk memiliki kekuatan antioksidan sekitar 100 kali lebih besar daripada vitamin C, serta 25 kali lebih besar daripada vitamin E, dan dua kali lebih efektif dibandingkan antioksidan yang ditemukan pada anggur merah dalam melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas.

"Penamaan teh Tayu diambil dari Jenis tanaman teh yang dibawa langsung oleh Soek Koeng Tjina pada zaman dahulu sewaktu mereka menjadi kuli tambang di parit timah Jebus, di bagian Barat Pulau Bangka," kata Suwito.

Menurut dia, sampai saat ini masih banyak warga di daerah itu yang membudidayakan tanaman teh yang dahulu hanya ditanam di sekitar rumah, namun juga dalam bentuk perkebunan.

"Saat ini sudah ada beberapa pemuda yang mulai menggeluti bisnis teh Tayu, selain menjaga tradisi juga untuk membantu para petani teh lokal dan membuka lapangan pekerjaan," katanya.

Saat ini sudah ada beberapa merek dagang yang membantu memasarkan produk teh Tayu, salah satunya merk teh Tayu Baba Ng yang dikelola Suwito Wu.

"Kami akan berusaha menjaga tradisi minum teh dengan menyediakan produk kemasan kekinian dengan harga terjangkau," katanya.

Selain menjaga tradisi peranakan Tionghoa Bangka, bisnis itu juga diharapkan bisa terus berkembang demi kemajuan ekonomi di Bangka Belitung.

Selain Suwito Wu, di daerah itu juga ada beberapa pebisnis muda yang tertarik untuk melestarikan budaya peranakan, salah satunya
Sugia Kam yang tidak hanya menjual teh dalam bentuk kemasan, namun juga mempraktikkan tradisi penyajian minum teh yang dikemas kekinian.

"Kami ingin generasi muda, terutama di daerah ini mengenal tradisi minum teh dan diharapkan ke depan budaya ini bisa bertahan dan berkembang," kata Sugia Kam.

Dalam tradisi minum teh warga peranakan, menyeduh teh tayu bukan sekedar menyajikan teh dalam gelas, namun melalui proses penyajian khusus agar bisa menghasilkan cita rasa khas teh pucuk.

"Di beberapa kota besar di Indonesia bisnis ini sudah berkembang, kami berharap di Pulau Bangka, khususnya di Bangka Barat menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan perekonomian masyarakat dan daerah," katanya.

Menurut dia, menjaga tradisi itu tidak hanya melulu untuk bisnis, namun juga sebagai salah satu upaya membantu melestarikan kearifan lokal.


Kedai teh 
Berbeda dengan Suwito Wu dan Sugia Kam yang selama ini giat melakukan penggalian sejarah sekaligus promosi produk teh Tayu di dalam dan luar daerah, Ko Anen pemilik sebuah kedai kopi di Parittiga yang lokasinya tidak terlalu jauh dari perkebunan teh juga mulai menawarkan menu teh Tayu sebagai salah satu menu andalan.

Selama ini, teh pada umumnya teh dinikmati dengan cara biasa, yaitu diseduh dengan air panas lalu disaring dan siap disajikan dengan ditambah gula sesuai selera, namun di kedai Ko Anen menu teh tayu disajikan dengan cara tradisional seperti yang diajarkan keluarga.

"Penyajian menu teh tayu seperti ini merupakan tradisi keluarga kami, disajikan original tanpa gula dengan tambahan daun serai dan lemon, namun jika ada konsumen yang ingin menambahkan gula atau susu dan krimer juga kami layani," kata Anen.

Bisnis minuman, khususnya teh tayu masih cukup menjanjikan karena peluang masih terbuka lebar dan belum banyak persaingan, tergantung dari inovasi produk yang disajikan.

Bisnis kedai sudah digeluti selama lima tahun terakhir dan teh tayu yang disajikan merupakan hasil perkebunan keluarga yang diolah dengan cara disangrai hingga layu yang ditangani sendiri demi terjaganya kualitas produk.

"Biasanya yang minum teh tayu di kedai kami adalah orang luar daerah karena warga setempat tidak begitu berminat dan ada sebagian yang sudah punya persediaan sendiri di rumah masing-masing," katanya.

Meskipun demikian, dirinya tetap optimistis bisnis minuman teh tayu akan tetap terjaga karena saat ini sudah banyak yang melakukan inovasi produk, bukan sekedar menyajikan tradisi.

"Sajian original biasanya diminati kalangan tua, sedangkan anak-anak muda kami berikan sajian alternatif dengan campuran bahan lain sesuai selera konsumen, seperti daun serai, daun pandan dan jeruk, bisa juga dicampur susu dan krimer," katanya.

Selain kedai Ko Anen, di sekitar Kecamatan Jebus dan Parittiga juga sudah ada beberapa usaha kedai minuman dan rumah makan yang menyajikan menu teh tayu sebagai salah satu menu andalan.


Konsep OVOP
Teh Tayu berbeda dengan teh pada umumnya karena tanaman teh di Kampung tayu merupakan tanaman dari dataran rendah sehingga cita rasanya khas dan berbeda dengan produk teh lain.

Kekhasan produk tersebut merupakan salah satu keunggulan dari produk sejenis, baik di Indonesia maupun mancanegara sehingga teh tayu bisa menjadi salah satu produk unggulan khas daerah itu.

Menurut petugas penyuluh Dinas Koperasi UKM dan Perindustrian Kabupaten Bangka Barat, Ridwan Sho'im Hidayat kekhasan produk teh tersebut menjadi unggulan desa dan didorong agar bisa berkembang dan bersaing di tingkat nasional.

"Produk ini sangat potensial karena berbeda cita rasanya yang dipengaruhi oleh faktor demografi, cuaca, karakter tanah dan kebiasaan penduduk," kata Ridwan Sho'im.

Menurut dia, pemerintah yang dalam beberapa tahun terakhir menggalakkan konsep One Village One Product atau OVOP akan terus mendorong agar teh tayu bisa berkembang dengan menggali potensi lokal.

Konsep OVOP terus berkembang dalam beberapa tahun ini, dimulai sejak 2008, Kementerian Perindustrian melaksanakan program OVOP untuk memajukan potensi industri kecil yang disambut baik oleh Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah dan Perindustrian dengan mencoba menerapkan konsep tersebut di Bangka Barat.

Teh Tayu dinilai memenuhi kriteria yang diharapkan sesuai konsep OVOP, yaitu produk harus memiliki keunikan, ciri spesifik, berkualitas baik sehingga berdaya saing tinggi, hasil dari pengembangan potensi sumber daya lokal, dan bersifat menguntungkan dari segi ekonomi untuk meningkatkan pendapatan dan kemampuan sumber daya manusia.

Teh tayu merupakan jenis produk industri kecil menengah unggulan hasil perkebunan dataran rendah yang ada di Kampung Tayu dengan luas perkebunan lebih dari 50 hektare.

"Selain memiliki produk unggulan, Tayu juga potensial untuk dikembangkan kekayaan sektor pariwisata dengan dukungan berbagai usaha yang ada dan keindahan alam perkebunannya," katanya.

Ia menjelaskan, berdasarkan penilaian produk potensi desa dalam kaitannya dengan produk OVOP, teh tayu memiliki potensi tertinggi untuk dikembangkan.

Produk tersebut menjadi produk unggulan OVOP dengan daya saing tinggi di pasaran, dan menjadi potensi sumber daya lokal yang potensial untuk dikembangkan, memiliki nilai tambah bagi masyarakat lokal, secara ekonomi menguntungkan dan bermanfaat untuk meningkatkan pendapatan dan kemampuan warga di daerah itu.

"Kami akan terus berusaha agar usaha lokal itu semakin berkembang, kami optimistis jika digeluti serius potensi ini akan mampu mengikuti jejak bisnis perkopian karena berbagai keunggulan dan dukungan sejarah yang ada," kata Sho'im.
Salah satu produk teh tayu dalam kemasan. (ANTARA/ Donatus D.P)

Menilik booming kopi yang terjadi di Tanah Air dalam beberapa tahun belakangan ini, bisnis minuman teh juga diharapkan bisa menuju ke sana sehingga perlu terus didorong agar mampu bertahan, menggeliat dan menjadi gaya hidup masyarakat dengan berbagai khasiat yang dimiliki.

Selain memberikan rasa nyaman dan diyakini bermanfaat untuk menjaga kesehatan, minum teh juga menjadi salah satu alternatif untuk menjaga kelestarian tradisi lokal dan meningkatkan silaturahim.

Pewarta: Donatus Dasapurna Putranta

Editor : Adhitya SM


COPYRIGHT © ANTARA News Bangka Belitung 2020