Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, memperkuat peran pos pelayanan terpadu (Posyandu) sebagai garda terdepan untuk menekan angka kasus stunting pada anak.

"Peran posyandu harus kita perkuat, harus aktif di semua desa sebagai upaya pencegahan secara masif terhadap stunting," kata Bupati Bangka Tengah Algafry Rahman di Koba, Sabtu.

Bupati menjelaskan saat ini ada sebanyak 140 posyandu yang tersebar di setiap desa dan diminta aktif melaksanakan kegiatan dalam mencegah kasus stunting.

Pemkab Bangka Tengah juga mendorong Kelompok Kerja Operasional Pos Pelayanan Terpadu (Pokjanal Posyandu) untuk berpartisipasi aktif mencegah kasus stunting.

Kasus stunting di Kabupaten Bangka Tengah, turun dari 21,2 persen menjadi 18,2 persen pada 2023 atau tiga persen karena komitmen berbagai pihak dalam menekan laju kasus gagal tumbuh pada anak itu.

"Capaian ini tentu merupakan kabar gembira dan tidak lepas dari kerja sama dan sinergi semua pihak yang terus konsisten menekan laju angka prevalensi stunting," kata Algafry.

Bunda Posyandu Bangka Tengah Eva Algafry mengatakan pembinaan terhadap posyandu terus dilakukan terutama mendorong Pokjanal Posyandu untuk aktif mengajak warga menerapkan pola kesehatan yang baik dan pemenuhan gizi seimbang.

"Kita berharap siapapun yang menjadi sasaran posyandu, baik balita, lansia, hingga remaja, semuanya dapat diakomodasi oleh Posyandu karena kita sudah menganut sistem Posyandu siklus hidup," ujarnya.

Eva mengatakan penerapan layanan berbasis siklus hidup manusia menjadi fokus integrasi dalam pelayanan kesehatan primer di masyarakat.

'Itu artinya, layanan di pusat kesehatan primer, termasuk posyandu, tidak hanya melayani kesehatan ibu dan anak, tetapi juga remaja, dewasa dan warga lansia," ujarnya.

Pewarta: Ahmadi

Editor : Bima Agustian


COPYRIGHT © ANTARA News Bangka Belitung 2024