Ritual Taber Laot yang dilaksanakan warga Desa Rambat, Simpangteritip, Kabupaten Bangka Barat merupakan sebuah bentuk syukur manusia kepada alam semesta dan Sang Pencipta yang selama setahun penuh telah memberikan hasil laut yang melimpah.

Taber Laot di Desa Rambat dilaksanakan rutin setiap tahun di bulan Juni, tradisi turun temurun ini sebagai bentuk komitmen warga dalam menjaga keseimbangan alam agar dijauhkan dari berbagai hal yang tidak diinginkan.

Dengan menjaga kelestarian alam diyakini akan memberikan dampak hasil tangkapan di laut tetap melimpah dan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus dijauhkan dari hal- hal yang tidak diinginkan.

Ritual tolak bala dilaksanakan selama dua hari, tahun ini dilaksanakan mulai Selasa (10/6) sekitar pukul 18.30 WIB. Pemuka adat atau Dukun Kampung Nyai Endang melaksanakan upacara ritual adat Ceriak Taber Laot sesuai yang diajarkan para pendahulunya.

Nyai Endang merupakan penerus warisan leluhur Taber Laot generasi ke tujuh, hingga saat ini tradisi yang ada di Desa Rambat tetap lestari dan selalu mendapatkan dukungan dari Pemerintah Desa Rambat dan warga.

Ritual Taber Laot Desa Rambat diawali dengan ritual Ceriak bertempat di pelataran rumah Nyai Endang, berbagai perlengkapan sesajian dan miniatur perahu yang didoakan untuk keperluan pelepasan di esok harinya.

Setelah ritual selesai, acara dilanjutkan dengan hiburan kesenian tradisional Dambus berlangsung hingga pukul 23.00 WIB, diikuti puluhan warga setempat dan dari luar desa.

Pemkab Bangka Barat tahun ini akan mengusulkan Taber Laot Desa Rambat sebagai salah satu warisan budaya tak benda Indonesia ke Kementerian Kebudayaan sebagai salah satu cara pelestarian budaya lokal.

"Kami tahun ini akan usulkan dan diharapkan bisa ditetapkan Menteri Kebudayaan RI tahun ini juga, atau paling lambat tahun depan," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangka Barat Muhammad Ali.

Ritual adat Taber Laot Desa Rambat sudah berlangsung turun temurun dan terbukti memberikan dampak positif bagi warga setempat.

Kepatuhan masyarakat terhadap berbagai pantangan dan larangan yang bisa merusak kelestarian lingkungan laut yang terkandung dalam nilai-nilai tradisi tersebut terbukti nyata dengan jumlah bagan yang semakin bertambah di wilayah pesisir desa tersebut.

Ia mengatakan, tahun lalu masih sekitar 50 bagan, namun tahun ini sudah lebih dari 80 bagan yang bertebaran di pesisir Desa Rambat. Atas rasa syukur itu Allah akan selalu memberikan kemudahan dan berkah kepada warga desa.

Ini belum lagi adanya penambahan dari perahu motor yang dimiliki warga. Untuk itu ia mengajak masyarakat agar bisa bersama-sama melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai kearifan lokal adat yang ada di desa tersebut karena jika dilanggar maka akan terjadi hal sebaliknya.

Ia memberikan apresiasi kepada Pemerintah Desa Rambat dan seluruh warga yang secara bergotong royong berjibaku menggelar kegiatan itu di tengah permasalahan anggaran pemerintah yang terjadi saat ini.

Dalam upaya pemajuan kebudayaan daerah, Taber Laot Desa Rambat masuk sebagai salah satu ritus dari 25 objek ritus yang ada di daerah itu.

Ritus adalah objek kebudayaan berupa tata cara pelaksanaan upacara atau kegiatan yang didasarkan pada nilai tertentu dan dilakukan oleh kelompok masyarakat secara terus menerus dan diwariskan ke generasi berikutnya.

Adapun contoh ritus yang masih dilestarikan dan berkembang di Bangka Barat, antara lain perayaan atau peringatan yang berhubungan dengan kelahiran, perkawinan, kematian, dan ritual kepercayaan lainnya, seperti sedekah bumi, sedekah gunung, tepung tawar, ceriak nerang, ceriak nelam, taber laot, sembahyang pendam, sembahyang rebut, rebo kasan dan lainnya.

Pewarta: Donatus Dasapurna Putranta

Editor : Bima Agustian


COPYRIGHT © ANTARA News Bangka Belitung 2025