Toboali (Antara Babel) - Petani ikan air tawar di Toboali Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengeluhkan sulitnya memasarkan hasil budidayanya karena kurangnya permintaan masyarakat di daerah itu.

"Saat ini permintaan lele, nila dan patin paling banyak hanya lima kilogram per hari," kata petani ikan air tawar, Andi di Toboali, Jumat.

Ia mengatakan permintaan ikan air tawar berkurang drastis, karena daya beli masyarakat yang melesu. Biasanya penjualan ikan mencapai 50 hingga 80 kilogram per hari.

"Kalau kondisi ini terus berlangsung, maka dapat dipastikan usaha yang ditekuni selama lima tahun terakhir akan gulung tikar," ujarnya.

Menurut dia, modal pembesaran dan budidaya ikan ini cukup besar karena pakan ikan yang terus mengalami kenaikan tidak sebanding dengan hasil penjualan yang terus menurun.

"Kami merugi karena lele yang sudah masuk masa panen harus dijual, jika tidak maka ikan yang terlalu besar, tidak laku di pasaran," ujarnya.

Selain itu, kata dia, lele yang sudah besar itu juga membutuhkan pakan seperti pelet dan usus ayam yang banyak.

"Kami berharap pemerintah daerah dapat membantu petani dalam memasarkan hasil perikanannya, agar petani bisa membeli berbagai kebutuhan keluarganya," harapnya.

Pudin, petani ikan lainnya mengaku belum ada upaya pemda untuk mengatasi hal ini dan seolah peternak dibiarkan begitu saja tanpa ada solusi.

"Sebaiknya pemda melakukan solusi mengatasi hal ini misalnya mencari penyebab kejadian ini, jangan hanya sibuk dengan kegiatan seremoni dan pencitraan saja," katanya.

Menurut dia sebelumnya permintaan pedagang dan warung makan cukup tinggi. Dalam sehari petani bisa menjual 15 kilogram per rumah makan.

"Kalau dulu permintaan cukup banyak dan kami peternak bisa bernafas lega, karena hasil penjualan bisa untuk makan serta menabung," katanya.

Pewarta: Juniardi

Editor : Rustam Effendi


COPYRIGHT © ANTARA News Bangka Belitung 2017