"Hari ini kami telah melakukan pengeledahan pada sebuah gudang milik Alim (40) di Kelurahan Bintang, Kecamatan Rangkui. Pada pengeledahan itu kami menemukan boraks sebanyak 20 karung dengan berat sekitar 1,5 ton,"
Pangkalpinang (Antara Babel) - Badan Pengawasan Obat dan Makanan Kota Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung, menyita 1,5 ton boraks dari sebuah gudang milik Alim warga Kelurahan Bintang, Kecamatan Rangkui.

"Hari ini kami telah melakukan pengeledahan pada sebuah gudang milik Alim (40) di Kelurahan Bintang, Kecamatan Rangkui. Pada pengeledahan itu kami menemukan boraks sebanyak 20 karung dengan berat sekitar 1,5 ton," ujar Kepala BPOM Pangkalpinang, Arnold Sianipar di Pangkalpinang, Rabu.

Ia mengatakan, pihaknya melakukan pengeledahan di gudang tersebut karena sehari sebelumnya mereka menemukan boraks tersebut dijual bebas di toko milik Alim di Pasar Atrium Pangkalpinang.

"Boraks itu seharusnya tidak boleh dijual bebas, terlebih lagi benda tersebut dijual di toko makanan. Dari hasil penyelidikan kami, boraks tersebut banyak dibeli oleh pedagang kerupuk, mie dan getas," ungkapnya.

Ia menjelaskan, kegunaan boraks bukanlah sebagai tambahan untuk membuat makanan. Boraks merupakan tambahan untuk membuat kaca, pupuk pertanian dan kayu yang berlapis.

"Boraks jelas tidak diperbolehkan untuk makanan. Ini harusnya digunakan di pabrik pembuatan kaca, kayu lapis dan pupuk pertanian bukan untuk tambahan pembuatan makanan. Jika dikonsumsi secara rutin, boraks dapat menyebabkan kerusakan hati," ujarnya.

Dia mengatakan, berdasarkan keterangan dari pemiliknya, boraks tersebut didapatkan dari Surabaya. Boraks itu merupakan pesanan para pembuat makanan yang ada di Pangkalpinang dan daerah lainnya yang ada di Babel.

"Informasi dari pemiliknya boraks itu dikirim dari Surabaya, tetapi kami tidak dapat pastikan darimana. Kami harapkan pemiliknya dapat kooperatif dan berkerjasama untuk memberitahukan di mana asal pengiriman barang tersebut," ujarnya.

Ia mengatakan, boraks itu dikirim melalui pelabuhan Pangkalbalam dengan menumpang truk pengangkut sapi, sehingga setiap pengirimannya tidak pernah terjaring oleh petugas.

"Borak itu dikirim setiap satu tahun sekali dengan jumlah yang cukup banyak hingga 2 ton. Selain itu, jumlah boraks sebanyak itu, diperkirakan bisa memasok kepada para pembuat makanan hingga satu tahun ke depan," katanya.

Pewarta: Pewarta: Try Mustika Hardi
Editor : Aprionis

COPYRIGHT © ANTARA 2026