Koba, Babel (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memperkuat kolaborasi lintas sektor untuk menekan prevalensi stunting menjadi 18,8 persen sesuai target nasional.
“Menekan kasus stunting tidak bisa dilakukan secara instan. Penanganannya harus terpadu, melibatkan berbagai pihak,” kata Bupati Bangka Tengah Algafry Rahman di Koba, Jumat.
Ia menyampaikan, prevalensi stunting di Bangka Tengah pada 2024 naik menjadi 21,2 persen, atau meningkat tiga poin dibandingkan 2023 yang sebesar 18,2 persen.
“Ini masalah yang harus kita atasi bersama dengan tekad kuat untuk menciptakan generasi sehat dan cerdas,” ujarnya.
Menurut Algafry, penanganan stunting tidak hanya menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan, tetapi juga memerlukan keterlibatan swasta, organisasi masyarakat, orang tua, hingga pekerja pers.
“Program strategis penanganan stunting harus bersinergi dengan berbagai instansi, baik pemerintah maupun swasta,” katanya.
Pada 2023, Pemkab Bangka Tengah berhasil menurunkan prevalensi stunting dari 21,2 persen menjadi 18,2 persen. Namun, angka tersebut kembali naik menjadi 21,2 persen pada 2024.
“Capaian tahun lalu patut diapresiasi, tetapi tantangan masih besar. Kenaikan prevalensi di 2024 menunjukkan perlunya kerja lebih keras dan sinergi untuk mencapai target nasional 18,8 persen pada 2025,” kata Algafry.
Pemkab Bangka Tengah saat ini menjalankan sejumlah program percepatan penurunan stunting, antara lain peningkatan gizi ibu hamil, pemeriksaan kesehatan balita, edukasi pola makan keluarga, dan perbaikan sanitasi lingkungan.
Pemerintah daerah menargetkan seluruh desa dan kelurahan di Bangka Tengah memiliki kader kesehatan terlatih yang mampu mendeteksi dini risiko stunting.
“Dengan intervensi sejak dini dan kerja bersama, kami optimistis target nasional dapat tercapai,” ujar Algafry.
