Pangkalpinang (ANTARA) - Lebih dari satu dekade Kota Pangkalpinang, yang merupakan ibu kota Provinsi Bangka Belitung, tidak menerima penghargaan Adipura dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH).
Mengutip dari laman Kementerian Lingkungan Hidup, Program Adipura adalah penghargaan untuk kota-kota di Indonesia yang berhasil dalam kebersihan serta pengelolaan lingkungan perkotaan.
Program ini merupakan insentif bagi pemerintah daerah dalam mendorong kepemimpinan daerah menuju tata kelola lingkungan perkotaan yang berkelanjutan. Kriteria penilaian meliputi pengelolaan sampah, ruang terbuka hijau, pengendalian pencemaran air, dan pengendalian pencemaran udara. Adipura menjadi tolok ukur keberhasilan pemerintah daerah dalam mewujudkan kota yang bersih hijau dan berkelanjutan.
Penghargaan Adipura terakhir diterima Kota Pangkalpinang pada 2014 lalu berupa sertifikat Adipura. Sedangkan untuk Adipura sendiri terakhir diterima pada 2013 saat kepemimpinan Wali Kota Almarhum Zulkarnain Karim.
Kota Pangkalpinang berhasil meraih penghargaan tersebut sebanyak delapan kali yaitu pada tahun 2007, 2008, 2009, 2010, 2012 dan 2013 berupa Adipura, tahun 2006 dan 2014 berupa sertifikat.
Sejak 2015 Kota Pangkalpinang harus berbesar hati dan puasa menerima penghargaan itu. Dua periode pergantian wali kota, Pangkalpinang masih belum menerima kembali penghargaan dinanti-nantikan selama ini.
Namun di tahun ini, peluang untuk meraih penghargaan yang cukup bergengsi tersebut masih terbuka. Pemkot Pangkalpinang beberapa waktu lalu telah melaksanakan rapat koordinasi dalam rangka persiapan penilaian Adipura 2025.
Rakor persiapan penilaian Adipura ini dilaksanakan kembali setelah lebih dari satu dekade vakum. Seluruh OPD terkait diberikan arahan agar dapat memberikan yang terbaik untuk memperoleh penghargaan tersebut.
Meski tantangan untuk meraih Adipura ini tidaklah ringan, namun Pemerintah Kota Pangkalpinang tetap optimistis bisa meraihnya. hal itu dikarenakan salah satu bobot penilaian yang cukup besar ada pada tempat pemrosesan akhir (TPA) yaitu 50 persen dan Pemkot Pangkalpinang merasa cukup berhasil menangani masalah itu.
Sekretaris Daerah Kota Pangkalpinang Mie Go menyampaikan Pemkot Pangkalpinang telah memetakan sekitar 17–18 titik pantau yang menjadi fokus penilaian. Masing-masing titik pantau tersebut ada OPD yang bertanggung jawab sesuai dengan tupoksinya.
"Pemkot Pangkalpinang akan berusaha maksimal untuk meraih penghargaan Adipura ini. Kami akan berupaya semaksimal mungkin agar bisa mendapatkan nilai yang terbaik agar bisa kembali meraih penghargaan Adipura," kata Mie Go.
Sebagai pemacu semangat, Mie Go menjanjikan bonus kepada mereka yang terlibat jika Pangkalpinang berhasil membawa pulang Adipura.
“Saya telah menjanjikan biar semangat, kalau dapat Adipura tahun ini saya kasih bonus. Dan ini janji saya,” tegasnya.
Ajak semua pihak bersinergi
Untuk bisa meraih penghargaan tersebut, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pangkalpinang mengajak semua pihak bersinergi mempersiapkan kota menghadapi penilaian Adipura 2025.
Koordinasi antara OPD, camat, lurah dan masyarakat menjadi kunci untuk bisa meraih Adipura. Semuanya harus menyamakan persepsi, harus satu langkah, karena penilaian Adipura sangat spesifik dan tidak bisa dianggap sepele.
Kepala DLH Pangkalpinang Bartholomeus Suharto mengatakan salah satu indikator utama penilaian adalah pengelolaan sampah, di mana KLHK menekankan pengurangan sampah dari sumber dan pengelolaan TPA.
"Pengurangan sampah di sumber harus jadi perhatian. Kita dorong pemilahan, bank sampah, pengomposan, hingga magotisasi," katanya.
Ia mengatakan, Wali Kota Pangkalpinang sudah menerbitkan SK Roadmap Pengurangan Sampah 2025–2026. Tahun ini, setiap kecamatan wajib punya bank sampah induk, sementara tiap kelurahan memiliki bank sampah unit dan tahun depan, targetnya setiap RW menjalankan bank sampah.
Saat ini timbunan sampah harian di Pangkalpinang mencapai 130–150 ton. Angka itu dinilai tinggi dan perlu penanganan serius di semua lini mulai dari pemukiman, pasar, sekolah, hingga kantor pemerintahan.
"Kita mohon semua bergerak. Bukan hanya bersih di jalan, tapi juga di drainase," kata Suharto.
Ia juga mengajak warga melakukan penghijauan untuk menciptakan lingkungan bersih dan teduh.
"Pangkalpinang pernah meraih Adipura delapan kali, tetapi kita sudah lama tidak mendapatkannya. Harapan kita tahun ini minimal mendapat sertifikat Adipura. Jangan sampai dicap kota kotor," ujarnya.
Menggalakkan kembali semangat gotong royong
Salah satu cara lainnya agar bisa kembali menerima kembali penghargaan Adipura, yaitu dengan menggalakkan semangat gotong royong di tingkat kelurahan dan kecamatan.
Kegiatan gotong royong ini harus melibatkan semua elemen masyarakat. Maka dari itu Pemkot Pangkalpinang harus meningkatkan semangat gotong royong di kalangan masyarakat, di mana salah satunya dengan rutin melaksanakan kegiatan tersebut.
Cara menggalakkan semangat gotong royong bisa dengan mengadakan penilaian kepada setiap kelurahan yang terbersih dan terjorok seperti yang telah dilaksanakan oleh Pemkot Pangkalpinang sebelumnya.
Kegiatan gotong royong tidak bisa hanya dilakukan sekali, tetapi harus dijadikan agenda rutin bahkan wajib setiap pekannya. Karena selain menghasilkan lingkungan yang bersih, juga bisa menghilangkan sumber penyakit.
Selain melibatkan masyarakat, gotong royong juga bisa melibatkan para siswa siswi sekolah, karena kegiatan gotong royong juga sangat bagus untuk mengedukasi generasi muda dalam upaya untuk menumbuhkan solidaritas, wujudkan kebersamaan gotong – royong dan peduli lingkungan bersih.
Edukasi tentang kebersihan lingkungan sangatlah penting kepada generasi muda khususnya kepada anak – anak usia dini, sehingga generasi muda peduli untuk bersama sama peduli lingkungan bersih di Kota Pangkalpinang.
Semoga dengan berbagai cara dan upaya yang telah dilakukan Pemerintah Kota Pangkalpinang bisa kembali meraih penghargaan Adipura yang selama ini telah dirindukan.
Opini
Kota Pangkalpinang merindukan Adipura
Senin, 18 Agustus 2025 9:06 WIB
