Bangka Barat, Babel (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melibatkan warga dalam pembangunan kawasan klaster Eropa berada di pusat Kota Mentok.
"Transparansi dan keterlibatan warga dalam kegiatan ini penting untuk menyukseskan pembangunan, bukan hanya dari sisi ekonomi namun juga agar yang dibangun sesuai tujuan awal yaitu menguatkan nilai-nilai sejarah yang ada di kawasan itu," kata Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Bangka Barat Heru Warsito di Mentok, Rabu.
Ia menjelaskan pembangunan fisik kawasan akan melibatkan pekerja lokal yang menyesuaikan keterampilan dan kebutuhan proyek.
Selain itu, untuk beberapa bagian bangunan, seperti relief dan patung yang akan mendukung cerita terkait sejarah peran lokomobil dalam industri timah juga akan melibatkan para pemerhati sejarah dan budaya lokal agar bangunan relief atau patung tidak lepas dari sejarah peran lokomobil.
Ia menambahkan untuk menentukan gambar cerita pada relief, maka akan diadakan forum diskusi sebanyak dua kali. Hasil gambar dari kesepakatan itu, akan diserahkan ke pihak kontraktor untuk dieksekusi para pekerja seni yang telah ditunjuk.
"Kami yakin dengan adanya peran aktif masyarakat dan pengawasan yang dilakukan, hasil pembangunan ini akan rapi, indah, sesuai norma dan estetika sehingga akan mempercantik tampilan perkotaan Mentok," katanya.
Saat ini, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat telah memulai tahap awal proyek penataan kawasan klaster Eropa, mulai dari Lapangan Gelora hingga Taman Lokomobil di pusat Kota Mentok.
Untuk mengerjakan proyek itu, pemerintah telah menyediakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sekitar Rp25 miliar dengan target awal Desember 2026 selesai pengerjaan.
"Kami minta masyarakat Mentok mendukung proyek tersebut, karena penataan kawasan ini akan mengubah wajah Kota Mentok menjadi lebih tertata dan menarik," katanya.
Salah satu hal menarik adalah keberadaan lokomobil di tengah taman. Mesin uap berbentuk lokomotif itu telah ditetapkan sebagai cagar budaya pada 2024.
Mesin uap dengan desain sederhana dengan sebutan lokomobil dahulu berfungsi sebagai genset bergerak karena dilengkapi roda.
Pada akhir abad 19, di Eropa mesin seperti itu populer digunakan untuk mendukung industri bidang pertanian, tekstil, tambang dan sektor lainnya. Kepopuleran mesin uap untuk industri mendorong perusahaan tambang milik Belanda mendatangkan mesin tersebut ke Pulau Bangka sebagai mesin penggerak pompa air untuk pertambangan.
Mesin ini menjadi salah satu bentuk transformasi sistem pertambangan dari tata cara penambangan tradisional yang dibawa oleh para pekerja tambang dari China ke pola kerja mekanik.
Belanda membawa teknologi mesin lokomobil karena multifungsi, antara lain bisa digunakan sebagai pengganti tenaga manusia, penggerak pompa air untuk menyemprot dan menyedot tanah yang mengandung timah untuk dialirkan ke kotak pencucian pasir timah.
Selain itu, mesin ini juga dapat berfungsi sebagai pembangkit listrik untuk peleburan timah dengan sistem oven berpendingin air menggantikan tanur China yang membutuhkan kayu bakar dalam jumlah besar.
Lokomobil juga dapat berfungsi sebagai sumber penggerak dinamo listrik untuk penerangan dan alat listrik sederhana lainnya, bisa juga dimanfaatkan sebagai penarik gerobak berisi timah dan sarana transportasi pulang-pergi para pekerja tambang.
Pada masa itu, jumlah lokomobil di Pulau Bangka cukup banyak tersebar di beberapa lokasi. Namun saat ini, hanya tersisa tiga unit, yaitu di Taman Lokomobil Mentok, di halaman Museum Timah Indonesia Pangkalpinang dan di kawasan Pantai Tongaci Sungailiat, Kabupaten Bangka.
Keberadaan lokomobil di kawasan klaster Eropa di Mentok, Bangka Barat tetap dipertahankan karena merupakan simbol transformasi industri timah dari tradisional menuju modern yang diharapkan menginspirasi generasi muda terus bergerak maju dengan inovasi baru.
Pewarta: Donatus Dasapurna PutrantaEditor : Feny Aprianti
COPYRIGHT © ANTARA 2026