Bangka Barat, Babel (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengatakan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat tahun ini akan menata ulang klaster Eropa untuk menguatkan nilai sejarah pusat perkotaan Mentok.
"Dijadwalkan tahun ini dimulai pembangunannya, dengan fokus penataan ulang Klaster Eropa, tepatnya kawasan Taman Lokomobil hingga Lapangan Gelora," kata Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangka Barat M. Ferhad Irvan di Mentok, Jumat.
Pembangunan akan dilaksanakan menggunakan anggaran dari Pemerintah Pusat dengan nilai sekitar Rp25 miliar.
"Kemarin kita melakukan pendampingan utusan dari Kementerian PUPR yang meninjau langsung kawasan itu, kita ingin beberapa aset bernilai sejarah di lokasi itu tidak dihilangkan," katanya.
Penataan ulang kawasan tersebut diyakini akan memberikan dampak positif terhadap geliat pembangunan dan perekonomian masyarakat karena berdasarkan desain kawasan itu akan menjadi semakin menarik untuk dikunjungi dan sebagai lokasi berkumpul warga.
"Kita berharap masyarakat mendukung rencana ini agar bisa berjalan sesuai rencana dan memberikan dampak positif terhadap upaya pelestarian dan pemanfaatan kawasan bersejarah sekaligus mendukung geliat sektor pariwisata daerah," katanya.
Berdasarkan data Disbudpar Bangka Barat, Lapangan Gelora Mentok tercatat sebagai salah satu cagar budaya yang ditetapkan 2023. Lapangan ini bukan hasil pengadaan lapangan atau stadion sepakbola yang berada tengah kota, namun sebagai alun-alun Hindia Belanda.
Lapangan Gelora merupakan bagian kecil dari kawasan pertahanan (area militer) yang pada awalnya berfungsi sebagai tempat latihan para serdadu atau untuk menggelar parade.
Dalam arsip kolonial Hindia Belanda, kawasan militer ini tercatat sebagai bagian dari sistem pertahanan Benteng Mentok yang dibangun sekitar 1820 oleh Perwira Zeni Belanda, Carel van der Wijk. Benteng ini dirancang dengan konsep pertahanan melingkar (sering disebut sebagai cuvellier dalam terminologi teknik militer Eropa), yang memungkinkan pengawasan menyeluruh terhadap kawasan pesisir dan jalur pelayaran strategis di Selat Bangka.
Sekitar tahun 1915, terjadi perubahan signifikan pada struktur benteng. Berdasarkan laporan teknis dalam arsip Koloniaal Verslag dan dokumen teknik sipil Hindia Belanda, sebagian dinding tanah benteng mulai dibongkar. Material hasil bongkaran ini tidak sepenuhnya dibuang, melainkan dimanfaatkan untuk menimbun area di sekitarnya yang menjadi cikal bakal lapangan sepakbola sekarang.
Pada masa masa pendudukan Jepang (1942–1945), fungsi lapangan kembali berubah, karena di lapangan itu Jepang mendirikan menara intai untuk mengawasi aktivitas laut di sekitar Mentok. Hal ini mencerminkan pentingnya posisi strategis kota ini dalam jalur logistik dan militer Jepang di kawasan Asia Tenggara.
Pada 8 September 1951, Lapangan Gelora Mentok dipenuhi ribuan manusia saat Soekarno melakukan kunjungan pertama ke Mentok, setelah masa pengasingannya di kota itu. Di lapangan itu Soekarno berdiri menyampaikan pidato yang membakar semangat dan harapan rakyat. Dua tahun kemudian, pada 19 Maret 1953, pada kunjungan keduanya, Soekarno kembali menghidupkan lapangan ini sebagai aula terbuka rakyat Bangka, tempat bergaungnya aspirasi, semangat, dan identitas nasional.
Rencana revitalisasi 2026, merupakan salah satu upaya pemerintah menjadikan Lapangan Gelora Mentok sebagai ruang publik yang mewakili kebutuhan masyarakat dan bagian dari lanskap wisata sejarah di Bangka Barat.
Sebuah ruang terbuka, yang tidak hanya menyediakan ruang dan menyuguhkan aktivitas publik, tetapi juga cerita sejarah untuk dikenang, dipahami, dirawat, dan diwariskan ke generasi selanjutnya.
Pewarta: Donatus Dasapurna PutrantaUploader : Bima Agustian
COPYRIGHT © ANTARA 2026