Bangka Barat, Babel (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menyiapkan rencana pembangunan Museum Tionghoa untuk menguatkan peran Mentok sebagai kota sejarah di Babel.

"Kemarin kami telah melakukan kunjungan ke bangunan bekas Sekolah Chung Hua di permukiman dekat Pasar Mentok, kita akan melakukan perencanaan matang agar bangunan itu bisa dimanfaatkan untuk Museum Tionghoa," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangka Barat Fachriansyah di Mentok, Jumat.

Keberadaan museum penting untuk menampung berbagai koleksi berbagai macam benda bernilai sejarah, khususnya yang berkaitan dengan sejarah warga Tionghoa di Bangka.

"Kita berusaha agar rencana bisa segera terwujud, semoga dukungan penuh juga datang dari para warga yang dahulu pernah menjadi siswa di sekolah tersebut," katanya.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangka Barat M Ferhad Irvan mengatakan banyaknya warga peranakan Tionghoa yang saat ini tinggal di Pulau Bangka tidak terlepas dari sejarah panjang pertambangan bijih timah sekitar 300 tahun lalu.

"Mereka datang langsung dari beberapa provinsi di China untuk bekerja sebagai penambang bijih timah dan pada perkembangannya sampai saat ini mereka hidup berdampingan dengan rukun dan penuh toleransi bersama warga lokal dan etnis lainnya di Pulau Bangka," katanya.

Menurut dia, kerukunan hidup bersama antaretnis di Pulau Bangka patut menjadi contoh kuatnya toleransi dan kebersamaan di daerah itu.

"Sejarah dan nilai-nilai positif ini perlu kita jaga kelestariannya dan dikembangkan, sehingga kehadiran Museum Tionghoa di Mentok penting sebagai simbol pengikat kebersamaan sekaligus mendukung sektor pariwisata di Bangka Barat," katanya.

Ia berharap, upaya revitalisasi sekaligus pemanfaatan bangunan yang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya pada 2023 tersebut, mendapatkan dukungan seluruh pihak sehingga bisa dikembalikan seperti semula dan dimanfaatkan untuk memberikan dampak positif bagi kualitas sumber daya manusia maupun perekonomian warga dan daerah.

Bangunan bekas Sekolah Chung Hwa Mentok merupakan bangunan yang memiliki nilai sejarah panjang warga Tionghoa di Mentok, bangunan ini merupakan peninggalan masa kolonial yang berdiri sebagai simbol penting pendidikan modern bagi komunitas Tionghoa peranakan di wilayah ini.

Secara arsitektural, bangunan ini memadukan gaya arsitektur unik, mengadopsi gaya Eropa dengan sentuhan ornamen khas China, sekaligus mengikuti langgam Indische (gaya arsitektur kolonial yang telah disesuaikan dengan iklim tropis Hindia Belanda).

Material dinding dari bata merah yang kokoh, atap genteng tanah liat dengan rangka kayu dan detail profil khas tradisional China yang memperkaya estetika fasad.

Pada awal abad 20, bangunan seperti ini bukan hanya simbol kemajuan teknologi konstruksi, tetapi juga representasi status sosial dan keterbukaan terhadap multikultural.

Sekolah Chung Hwa (mandarin: Zhong Hua Xue Xiao, atau dalam bahasa Hakka: Chung Hwa Hok Kao), didirikan 8 September 1906 oleh Luitenant Lim A Pat di bawah naungan organisasi Tiong Hoa Hwee Koan (THHK). Organisasi ini merupakan gerakan sosial yang lahir di Batavia pada 1900, dengan misi utama memperkuat pendidikan, budaya, dan identitas Tionghoa, sekaligus penyebarluasan ajaran Kong Hu Cu.

Keberadaan sekolah ini menarik, karena dibangun sekitar dua tahun sebelum berdirinya Budi Utomo (1908), awal kebangkitan nasional Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran pentingnya pendidikan modern telah lebih dahulu berkembang di komunitas Tionghoa, bahkan sebelum gerakan nasional Indonesia mulai terorganisir secara formal.



Pewarta: Donatus Dasapurna Putranta
Uploader : Bima Agustian

COPYRIGHT © ANTARA 2026