Bangka Barat, Babel (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bersama para pengurus Palang Merah Indonesia daerah setempat membantu kelancaran rangkaian peringatan tragedi Perang Dunia II yang berlangsung di Mentok.

"Pemkab memberikan layanan kemudahan kepada puluhan tamu warga negara asing tersebut untuk melakukan beberapa prosesi peringatan. Dari mulai survei lokasi, persiapan peringatan di beberapa lokasi hingga kepulangan mereka meninggalkan Mentok," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangka Barat Fachriansyah di Mentok, Rabu.

Ia menjelaskan, rangkaian peringatan untuk mengenang para korban Perang Dunia II yang meninggal dunia di Mentok berlangsung beberapa hari, mulai dari 13-18 Februari 2026.

"Selama itu kita bersama kawan-kawan PMI ikut membantu, termasuk melakukan pembersihan lokasi upacara di Pantai Radji, di Monumen Tanjungkalian dan Museum Perdamaian di Keranggan," ujarnya.

Dalam rangkaian itu, kata dia, panitia juga melibatkan Komunitas Jeep Bangka Barat untuk mengantarkan para peserta ke Monumen Pantai Radji karena akses jalan menuju lokasi itu masih sulit dilalui kendaraan.

Selain melakukan proses mengenang para korban, para peserta juga memanfaatkan waktu luang dengan melakukan jelajah sejarah mulai dari Pelabuhan Lama Mentok, bekas gedung bioskop yang dahulu menjadi penjara tawanan, rumah dinas bupati, jalur buruh, Rutan Mentok dan markas PMI yang dahulu menjadi gedung rumah sakit.

"Mulai hari ini para tamu sebagian sudah meninggalkan Mentok, dan ada juga beberapa yang masih tinggal untuk bertemu beberapa kolega," katanya.

Keluarga korban Perang Dunia II dari Australia datang ke Mentok untuk melakukan penghormatan dan mengenang tragedi 16 Februari 1942. Acara ini merupakan agenda rutin tahunan.

Menanggapi kedatangan para tamu warga negara asing tersebut, Bupati Bangka Barat Markus mengatakan momentum ini penting untuk saling mendukung dan membangun ikatan kekeluargaan antara keluarga korban dengan warga Mentok dan Pemerintah Daerah setempat.

"Tragedi ini meninggalkan rasa pilu, atas nama masyarakat Bangka Barat, khususnya Mentok, saya menyampaikan rasa duka yang mendalam atas tragedi tersebut. Namun dari kepedihan masa lalu, kita belajar untuk menumbuhkan semangat kebersamaan, saling mendukung dan membangun ikatan kekeluargaan yang kuat," katanya.

Menurut dia, sejarah merupakan guru berharga karena dari peristiwa itu generasi penerus dapat belajar menghargai masa lalu sebagai pijakan untuk masa depan.

Melalui kerja sama bilateral yang terjalin diharapkan dapat terus memperkuat persahabatan, menciptakan perdamaian dan memberikan harapan bagi generasi mendatang.

"Masa lalu adalah cermin untuk menata langkah ke depan, mari kita jaga nilai-nilai sejarah, nilai-nilai kemanusiaan untuk bekal masa depan dan diwariskan ke generasi penerus," katanya.



Pewarta: Donatus Dasapurna Putranta
Uploader : Bima Agustian

COPYRIGHT © ANTARA 2026